Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pertumbuhan Ekonomi DIJ Tahun 2026 Diproyeksikan Bisa Capai 5,75 Persen, Sektor Industri Masih Jadi Tumpuan Utama

Adib Lazwar Irkhami • Kamis, 1 Januari 2026 | 19:43 WIB

 

Amirullah Setya Hardi (Pengamat Ekonomi FEB UGM)
Amirullah Setya Hardi (Pengamat Ekonomi FEB UGM)

JOGJA - Pertumbuhan ekonomi di DIJ diprediksi bakal tetap dalam tren positif. Tahun 2026 ini pertumbuhan ekonomi di Bumi Mataram diperkirakan mampu menyentuh angka 5,25 hingga 5,75 persen.


Pengamat ekonomi dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM Amirullah Setya Hardi menjelaskan, sebenarnya pertumbuhan ekonomi di tahun 2026 sangat bergantung pada landasan yang dibentuk pada penghujung 2025. Sebagai perbandingan, pada 2024 lalu DIJ mencatatkan pertumbuhan di angka 5,03 persen.


"Kami melihat di 2025 per kuartal angkanya lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Hitungan saya ada di angka 5,11 persen hingga 5,4 persen. Ini menjadi fundamental yang bagus untuk melangkah ke 2026," jelasnya Kamis (1/1).


Menurut Amirullah, jika kuartal keempat tahun 2025 mampu menyentuh angka enam persen, maka secara akumulatif ekonomi DIJ bisa mencapai 5,50 persen. Tapi kalaupun tidak sampai segitu, pertumbuhannya masih di kisaran 5,2 hingga 5,25 persen. "Itu sudah menjadi basis yang kuat untuk melihat 2026," tegasnya.


Untuk tahun 2026 sendiri, Amirullah memproyeksi pertumbuhan ekonomi DIJ akan berada di rentang 5,25 persen hingga 5,75 persen. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan pertumbuhannya juga bisa mencapai angka 6 persen di tahun 2026 jika kinerja industri dan jasa terus dipacu.


Sebab, menurutnya, sektor industri manufaktur dan jasa masih memegang peranan vital. Selain itu, geliat pariwisata yang dibarengi peningkatan ekspor di akhir tahun juga menjadi sinyal positif.
Meski demikian, Amirullah mengatakan ada sejumlah catatan merah yang harus tetap diwaspadai oleh pemerintah daerah. Salah satunya tren kenaikan inflasi yang mulai merangkak sejak bulan April 2025 silam. Sebab, saat itu data menunjukkan inflasi year-on-year hingga November sudah menyentuh 2,9 persen.


"Penyumbang terbesarnya adalah sektor makanan. Ini yang harus diperhatikan pemerintah. Bagaimana mengamankan pasokan pangan agar harga terjangkau bagi masyarakat," lontarnya.
Tak hanya itu, tantangan lain yang tak kalah krusial adalah masalah domestik. Seperti pengelolaan sampah dan infrastruktur layanan pariwisata. Mengingat sektor wisata juga merupakan salah satu penyumbang dampak signifikan.


Oleh karena itu kesiapan infrastruktur menjadi kunci agar wisatawan, baik mancanegara maupun Nusantara, tetap merasa nyaman di DIJ. Oleh sebab itu, Amirullah berharap pertumbuhan ekonomi di DIJ yang diproyeksikan bakal meningkat itu harus tetap berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat.


Kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) juga diharapkan mampu mendongkrak pendapatan per kapita dan daya beli. "Kalau pemerataan tidak diperhatikan, kemiskinan akan muncul dan justru memberikan dampak negatif bagi ekonomi secara keseluruhan," tandasnya. (ayu/laz)

Editor : Herpri Kartun
#produk domestik regional bruto #Pariwisata #Fakultas ekonomika dan bisnis ugm #pertumbuhan ekonomi