JOGJA - Pasar Terban berubah pasar tradisional yang layak dan modern. Namun, hal tersebut menimbulkan kekhawatiran baru bagi pedagang soal bertambahnya beban retribusi.
Ketua Paguyuban Mitra Unggas Sejahtera Pasar Terban Faisal Rabidi menyambut baik revitalisasi Pasar Terban. Sebab kondisi pasar saat ini menjadi lebih baik. Jauh dari kondisi sebelumnya yang terkesan kumuh.
Kendati begitu, ada kekhawatiran baru yang kini menghantui para pedagang. Yakni perihal naiknya biaya retribusi.
Faisal mengungkap, saat masih menjadi pasar tradisional kelas empat retribusi pasar hanya Rp 50.000 sampai 70.000 per bulan dengan penghitungan Rp 300 per meter lapak.
Namun pascarevitalisasi, Pasar Terban kini menjadi pasar tradisional kelas satu. Biaya retribusinya membengkak menjadi Rp 1.500 per meter lapak. Tiap pedagang kemungkinan dibebani biaya retribusi hingga Rp 300.000 per bulan atau naik hingga enam kali lipat dibandingkan tarif lama.
“Kami sadar ini adalah konsekuensi dari fasilitas pasar yang jauh lebih baik," ujar Faisal saat ditemui di sela Wiwitan Pasar Terban, Selasa (30/12).
Dia mengaku, para pedagang sampai saat ini masih mencari terkait permalasahan tersebut. Pihaknya tengah berdiskusi dengan Dinas Perdagangan Kota Jogja supaya bisa memberikan win-win solution perihal biaya retribusi.
Di luar permalasahan itu, Faisal berharap bangunan baru Pasar Terban nantinya bisa membawa rezeki yang lebih banyak kepada para pedagang. Sebab kondisi pasar yang semakin bersih dan higienis seharusnya dapat membawa lebih banyak pembeli.
“Insyaallah di 10 Januari 2026 kami mulai pindah. Harapan kami rejekinya juga baru,” katanya.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menjelaskan, wiwitan merupakan salah satu bentuk soft launching bangunan baru Pasar Terban.
Baca Juga: Cut-Off Gula Terbukti Bikin Wajah Lebih Glowing, IniPenjelasan Dokter
Dia berharap bangunan baru pasar tradisional di Kemantren Gondokusuman itu bisa merubah Pasar Terban sebagai pusat ekonomi yang lebih modern, bersih, dan nyaman.
Sebagai informasi, bangunan baru Pasar Terban memiliki tiga lantai dengan luas total 7.838 meter persegi. Total anggaran revitalisasi mencapai Rp 55 miliar bersumber dari pemerintah pusat dengan kapasitas sekitar 500 pedagang.
Lantai bawah difungsikan sebagai pasar rakyat dan rumah potong ayam. Lalu lantai tengah untuk kios buku, permak jahit, dan pedagang kaki lima. Sementara lantai atas sebagai pusat kuliner dan meeting point.
Hasto berharap, Pasar Terban bisa mengikuti jejak Pasar Prawirotaman yang telah lebih dulu bertransformasi. Baik itu dari segi modernisasi pasar tradisional maupun peningkatan transaksi digitalnya.
Dia juga menekankan terkait dengan pengelolaan limbah. Sebab Pasar Terban merupakan satu-satunya pusat ekonomi yang terintegrasi dengan rumah potong hewan (RPH).
“Tanggung jawabnya bukan sekadar fisik pasar, tapi bagaimana tata kelola standar RPH, termasuk pengelolaan limbahnya harus benar-benar dipenuhi," pesan Hasto. (inu/pra)
Editor : Heru Pratomo