JOGJA - Momen libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 membuat pergerakan kendaraan dan orang di wilayah DIY meningkat tajam.
Pemerintah dan aparat kepolisian telah menyiapkan sejumlah langkah rekayasa lalu lintas, termasuk di kawasan wisata utama seperti Malioboro.
Namun, rekayasa tersebut dinilai belum cukup tanpa dukungan perilaku wisatawan.
Pengamat pariwisata sekaligus dosen Program Studi Bisnis Perjalanan Wisata Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) Ghifari Yuristiadhi Masyhari Makhasi menyebut, rekayasa lalu lintas yang dilakukan selama ini merupakan upaya terbaik yang bisa ditempuh pemerintah.
Meski demikian, ia menekankan bahwa pertumbuhan kendaraan tidak sebanding dengan kapasitas jalan di Jogja.
"Jalan di Jogja dalam beberapa dekade terakhir tidak bertambah, sementara kendaraan wisatawan terus bertambah terutama pada masa high season seperti libur Nataru," ujarnya, Sabtu (27/12).
Menurutnya, pembukaan–penutupan ruas jalan hingga penataan trotoar di Malioboro merupakan bentuk pengalaman panjang rekayasa lalu lintas yang pernah diterapkan pemerintah.
Namun dampaknya tetap terbatas jika tak diiringi perubahan pola perjalanan wisatawan.
"Pemerintah sudah melakukan sesuatu yang maksimal. Tetapi dengan pertambahan kendaraan yang besar tentu itu tidak akan terlalu signifikan," kata Ghifari.
Ia menilai, bahwa edukasi kepada wisatawan menjadi faktor kunci.
Wisatawan perlu didorong mengurangi ketergantungan kendaraan pribadi, memanfaatkan parkir di kawasan sekitar, serta lebih banyak berjalan kaki.
"Bagaimana wisatawan mengakses Malioboro dengan cara lain. Jalan kaki dari beberapa titik parkir bisa jadi alternatif yang tetap memberi pengalaman tanpa terjebak macet," ucapnya.
Selain itu, Ghifari juga menekankan perlunya pendekatan ilmiah dalam menentukan batas ideal kepadatan kendaraan di kawasan Malioboro.
"Secara scientific harusnya dihitung, berapa kapasitas maksimal kendaraan di Malioboro. Saat sudah melewati batas, harusnya segera ditutup dan dialihkan," tuturnya.
Ia juga menambahkan, kemacetan parah yang kemudian viral di media sosial dapat merugikan citra pariwisata Jogja secara umum.
Karena itu, pembatasan kendaraan masuk kawasan padat sudah semestinya ditegakkan.
Namun demikian, lonjakan wisatawan diakuinya membawa dampak ekonomi signifikan bagi UMKM, pengelola destinasi, dan sektor jasa pariwisata.
Namun, di sisi lain, kenyamanan warga lokal kerap terganggu.
"Ini situasi yang dilematis. Ekonomi bergerak, tetapi kenyamanan masyarakat lokal kadang terganggu," ujarnya.
Ghifari mengingatkan semua pihak untuk tidak egois dan saling memahami peran masing-masing.
Warga lokal diharapkan tidak melakukan praktik nuthuk harga, sementara wisatawan diminta menjaga empati dan disiplin berlalu lintas serta kebersihan.
"Wisatawan juga harus punya empati, tidak sembarangan menaruh kendaraan dan tidak sembarangan buang sampah," tegasnya.
Sementara itu, salah satu wisatawan yang berkunjung ke Jogja saat libur Nataru kali ini adalah Aida Shafira, warga Pasuruan.
Ia datang bersama suaminya untuk menikmati suasana kota wisata tersebut.
Aida mengaku, kunjungannya kali ini belum bisa dinikmati sepenuhnya.
Menurutnya, kemacetan dan hujan yang kerap turun menjadi kombinasi yang membuat aktivitas berwisata terasa cukup terbatas.
"Macetnya cukup berasa, dan hujannya juga awet. Apalagi saya tidak bawa kendaraan pribadi, jadi agak susah pas mau eksplorasi atau jalan-jalan," ujarnya.
Ia juga menyebut baru mengetahui adanya rekayasa lalu lintas di sekitar kawasan Malioboro.
Kondisi tersebut membuat perjalanan harus memutar lebih jauh dari yang diperkirakan.
"Saya juga baru tahu ternyata di dekat Malioboro ada rekayasa lalu lintas, jadi agak muter dan itu lumayan makan waktu," tuturnya.
Meski demikian, Aida menegaskan tetap menikmati suasana Jogja dan memahami bahwa kepadatan wisatawan merupakan hal yang wajar saat libur panjang.
"Namanya juga musim liburan, jadi ya wajar ramai. Capek iya, tapi senang juga akhirnya bisa ke Jogja lagi," katanya. (iza)
Editor : Bahana.