JOGJA - Malioboro masih menjadi destinasi wisata primadona saat musim libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Bahkan diprediksi kunjungannya dapat menyentuh hingga 1,5 juta wisatawan selama periode liburan ini.
Kepala UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Dinas Kebudayaan Kota Jogja Fitria Dyah Anggraeni mengatakan, peningkatan pengunjung sudah terjadi sejak Sabtu (20/12). Jumlah kunjungan harian disebut mencapai 100 ribu wisatawan.
Wanita yang akrab disapa Anggi itu yakin jumlah kunjungan ke Malioboro bisa lebih besar mendekati masa akhir tahun. Bahkan total kunjungan hingga 4 Januari mendatang diprediksi menyentuh kisaran 1,4 juta sampai 1,5 juta wisatawan.
"Kami perkirakan jumlah kunjungan harian mencapai 60 ribu hingga 100 ribu orang per hari selama dua pekan liburan Nataru,” ujar Anggi saat dikonfirmasi lewat sambungan telepon kemarin (25/12).
Menurutnya, jumlah kunjungan ke Malioboro akan naik hampir tiga kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Sebab, berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, jumlah wisatawan yang mengunjungi Malioboro selama dua pekan libur Nataru hanya 500 ribu orang.
Anggi menyatakan, pihaknya juga telah melakukan berbagai persiapan menghadapi lonjakan pengunjung. Misalnya dengan menambah petugas untuk menghalau aktivitas merokok hingga pedagang asongan agar Malioboro menjadi kawasan tertib.
Sementara terkait kategori wisatawan, dia menyebut kunjungan masih didominasi pengunjung domestik. Misalnya berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DIY. "Mayoritas masih wisatawan lokal dan regional,” beber Anggi.
Melonjaknya kunjungan wisatawan ke Malioboro juga berimbas hingga Pasar Beringharjo. Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Beringharjo sisi Barat Ahmad Zainul Bintoro menyampaikan, jumlah kunjungan naik signifikan dibanding hari biasa.
Hanya saja, banyaknya kunjungan ke pasar tradisional tersebut belum berdampak pada naiknya omzet pedagang. Sebab di awal masa libur Nataru ini pendapatan pedagang hanya naik 20 sampai 30 persen dibandingkan hari biasa.
Hal itu karena banyak wisatawan yang ke Pasar Beringharjo baru sekadar melihat-lihat dan menawar. Namun sebagian juga sudah banyak yang membeli komoditas pedagang seperti baju batik.
"Meski sekarang belum optimal, kami yakin penjualan mendekati awal tahun naik. Setiap tahun biasanya seperti itu,” ungkap Bintoro. (inu/laz)