Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Seniman Asal Jogja Tampilkan Karya Diorama Natal dalam Pameran Internasional di Vatikan, Usung Karya Weaving Hopes, Siratkan Kisah Perjuangan Para Ibu

Iwan Nurwanto • Kamis, 25 Desember 2025 | 20:45 WIB
Weaving Hopes, karya seni buatan Maria Tri Sulistyani yang tampil di The International Exhibition 100 Presepi in Vaticano, Vatikan hingga 6 Januari 2026 mendatang.
Weaving Hopes, karya seni buatan Maria Tri Sulistyani yang tampil di The International Exhibition 100 Presepi in Vaticano, Vatikan hingga 6 Januari 2026 mendatang.

INDONESIA patut berbangga. Sebab untuk pertama kali ada karya seni asal nusantara yang moncer dalam pameran internasional bertajuk The International Exhibition 100 Presepi in Vaticano. Karya tersebut berjudul Weaving Hopes, dibuat oleh seniman asal Jogja bernama Maria Tri Sulistyani.

Iwan Nurwanto, Jogja 

Weaving Hopes atau Menenun Pengharapan memiliki kisah tentang perjuangan para ibu penenun di Mollo, Nusa Tenggara Timur dalam merawat alam dan budaya melalui tradisi menenun. Karya diorama natal tersebut dibuat dalam dimensi 135x135x65 sentimeter. Serta tampil bersama 132 karya lain dari seniman di 23 negara.

Maria mengatakan, karya buatannya menampilkan tangan yang ibarat menopang Keluarga Kudus. Namun bukan hanya sekedar sebagai tangan yang mendukung dan menemani tangan para penenun, petani, dan tukang sayur. Tapi juga tangan bagi orang majus yang datang dari jauh untuk membawa hadiah setelah kelahiran Yesus.

"Tangan ini melambangkan bahwa kebaikan datang jika kita mau memulainya," ujar Maria lewat pesan singkatnya, Kamis (25/12/2025).

Nuansa khas Mollo juga kental dalam karyanya, sebab kain tenun yang dibuat oleh perempuan kaki Gunung Mutis itu membalut Keluarga Kudus. Maria menyebut, karyanya menggambarkan peristiwa kelahiran Yesus yang tengah ditemani oleh mama-mama penenun kain dari Mollo. 

Pendiri Papermoon Puppet Theatre itu menjelaskan, Weaving Hopes juga menyiratkan pesan bahwa perempuan Mollo saat ini tengah berjuang melawan tambang. Sebab di kaki Gunung Mutis tempat tinggal para penenun kain mollo sudah ditambang dari tahun 1999 sampai sekarang.

"Bagi saya kain tenun ini menjadi lambang perlawanan, dan juga upaya manusia untuk melawan keserakahan manusia lain," beber Maria.

Partisipasi Indonesia dalam pameran tersebut juga melibatkan Program Studi Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Para akademisi berperan membantu pendalaman konseptual, riset budaya, serta kerangka teologis dan sosial dari karya instalasi.

Penggagas instalasi nativitas G. Budi Subanar menyebut, pemilihan kain tenun mollo dalam karya Weaving Hopes merupakan bentuk solidaritas penjelmaan Yesus di hari natal. Sekaligus menyiratkan pesan, bahwa Yesus hadir kembali di tengah mereka yang terus berjuang mempertahankan tanah, air, hutan, dan warisan budaya demi generasi mendatang.

“Pilihan Maria menggunakan kain mama-mama dari Mollo untuk membungkus Keluarga Kudus sungguh merupakan sebuah simbol yang sangat kuat,” tegas sosok yang akrab disapa Romo Banar itu.

Akademisi lain, Stanislaus Sunardi juga memandang karya Weaving Hopes akan membuka ruang bagi banyak pihak untuk membela kaum tersisih. Terkhusus para perempuan Mollo yang saat ini tengah berjuang melawan tambang.

Pemimpin delegasi Indonesia ke The International Exhibition '100 Presepi in Vaticano, Nina Handoko menambahkan, kehadiran Indonesia dalam pameran internasional di Vatikan akan mempererat persahabatan kedua negara. Sekaligus menjadi ajang penampilan kekayaan seni dan budaya dari nusantara.

“Partisipasi ini bukan hanya soal seni, tapi juga tentang bagaimana Indonesia membawa pesan perdamaian dan harapan ke panggung dunia," katanya. (inu) 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#penampilan #Seniman #vatikan #Asal jogja