JOGJA - Periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 diperkirakan akan membawa lonjakan besar wisatawan ke DIJ. Jumlah kunjungan diproyeksikan mencapai lebih dari 1,5 juta orang. Namun, di tengah tingginya minat wisata itu, penutupan Jembatan Kewek yang menjadi salah satu akses menuju kawasan Malioboro dinilai berpotensi memengaruhi kenyamanan wisatawan.
Dosen Program Studi Bisnis Perjalanan Wisata Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) Ghifari Yuristiadhi Masyhari Makhasi, menekankan pentingnya kesiapan pemerintah daerah dan instansi terkait dalam memastikan aspek keamanan dan kenyamanan wisata selama periode libur panjang tersebut.
"Tentu yang harus disiapkan Pemda dan Dishub adalah bagaimana menyiapkan wisata Jogja di masa Nataru yang aman dan nyaman," ujarnya, Sabtu (13/12).
Ghifari menyoroti, bahwa kondisi DIJ saat ini tengah menghadapi risiko multihazard, mulai dari cuaca ekstrem hingga status Gunung Merapi yang masih berada di level siaga.
"Kita sedang menghadapi multihazard, cuaca ekstrem ditambah Merapi masih siaga 3. Ini menambah risiko yang cukup untuk wisatawan yang datang ke Jogja di musim liburan," jelasnya.
Menurutnya, sejumlah destinasi unggulan DIJ justru berada di wilayah yang rentan terhadap dampak bencana hidrometeorologi, seperti kawasan Merapi, Menoreh, dan Dlingo. Oleh karena itu, pemerintah dinilai perlu lebih aktif mengarahkan wisatawan ke alternatif destinasi yang lebih aman.
"Pemerintah harus memastikan aman, itu pertama. Kemudian juga nyaman, salah satunya dari faktor kemacetan," katanya.
Sementara, terkait penutupan jembatan Kewek dan rekayasa lalu lintas di sekitar area jembatan tersebut, Ghifari menilai dampaknya terhadap pengalaman wisatawan hampir tidak terhindarkan.
"Kalau ditanya apakah memengaruhi kenyamanan dan pengalaman wisatawan, ya itu pasti," tegasnya.
Ia menjelaskan, bahwa karakter wisatawan yang masih mengandalkan kendaraan pribadi menjadi tantangan tersendiri, terlebih dengan terbatasnya kantong parkir di kawasan Malioboro.
"Malioboro hari ini sangat tidak accessible. parkir Abu Bakar Ali belum diberi solusi signifikan, dan terjadi konsentrasi parkir di titik lain yang juga didominasi bus besar," paparnya.
Meski demikian, Ghifari menilai kondisi ini bisa menjadi momentum edukasi bagi wisatawan untuk menikmati Malioboro dengan cara berbeda.
"Ada banyak cara ke Malioboro dengan cara yang lebih menyenangkan, misalnya dengan walking tour. Proses jalan kaki itu harusnya jadi bagian dari pengalaman berwisata," ujarnya.
Sementara itu, rencana liburan akhir tahun di Jogja tetap diminati wisatawan. Salah satunya adalah Ahmad Hanafi, wisatawan asal Magetan, Jawa Timur itu sudah merencanakan untuk menghabiskan pergantian tahun di Jogja.
"Saya ada acara tanggal 30 di Jogja. Jadi sekalian perpanjang dan akhir tahun di Jogja juga," bebernya.
Secara pribadi, Hanafi mengaku tidak terlalu mempermasalahkan kemacetan yang mungkin akan terjadi, asalkan informasi rekayasa lalu lintas dan alternatif akses disampaikan dengan jelas.
"Kalau memang parkirnya jauh, nggak apa-apa jalan kaki, asal jalurnya jelas dan aman," ulasnya.
Di samping itu, ia juga berharap pemerintah bisa menyediakan informasi yang mudah diakses oleh wisatawan, terutama yang datang dari luar daerah.
"Yang penting informasinya jelas dari awal, jadi wisatawan bisa menyesuaikan ekspektasi," pungkasnya. (iza)
Editor : Meitika Candra Lantiva