JOGJA - Menjelang periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026, tingkat reservasi hotel di wilayah DIY mulai menunjukkan tren yang meningkat.
Berdasar data Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, keterisian kamar saat ini telah berada di kisaran 35 hingga 50 persen.
Meski begitu, PHRI meminta pemerintah daerah lebih serius melakukan penertiban terhadap keberadaan akomodasi ilegal yang dinilai semakin menjamur.
Ketua PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono mengungkapkan, bahwa peningkatan reservasi sejauh ini masih terfokus di area Kota Jogja dan Kabupaten Sleman.
Namun dalam dua pekan terakhir, sudah muncul penyebaran permintaan ke kawasan Gunungkidul, Bantul, hingga Kulonprogo.
"Target kami di 85 persen se DIY untuk Nataru. Mulai di bintang 3 sampai dengan bintang 5, dengan rata-rata menginap 2 hari," ujar Deddy, Sabtu (6/12/2025).
Deddy menegaskan, menurutnya pemerintah daerah perlu memantau dan menindak akomodasi yang belum terdaftar maupun tidak berizin.
Ia menyoroti maraknya penyewaan villa, homestay, rumah harian, hingga kos harian yang menawarkan harga jauh lebih murah karena tidak memenuhi standar izin usaha.
Menurut dia, keberadaan akomodasi ilegal ini cukup merugikan dan telah menyerap pasar hotel resmi cukup signifikan.
"Sejauh ini kami belum melihat ada penertiban selain di Kota Jogja," kata Deddy, sembari menambahkan bahwa pangsa pasar yang tersedot oleh akomodasi tak berizin tersebut diperkirakan mencapai 10 hingga 30 persen.
Sementara itu, Statistisi Utama Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Sentot Bangun Widoyono menyampaikan, bahwa data Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel pada periode Oktober 2025 di DIY memperlihatkan dinamika yang menarik.
Secara akumulatif, TPK hotel bintang tercatat naik 6,73 persen poin secara month-to-month (mtm), sementara hotel non-bintang justru turun tipis 0,28 persen poin secara mtm.
Ia menjelaskan, pada Oktober 2025 lalu, total jumlah tamu yang menginap di hotel DIY mencapai 709.289 orang, atau naik 14,21 persen dibandingkan periode September 2025.
"Dari total 709.289 tamu tersebut, sebanyak 473.364 tamu atau 66,74 persen menginap di hotel bintang. Sementara sisanya, 235.925 tamu atau 33,26 persen, menginap di hotel non bintang," ulasnya.
Lebih lanjut, Sentot menambahkan, bahwa rata-rata lama menginap atau length of stay (los) hotel bintang pada Oktober 2025 berada di angka 1,64 malam, angka itu turun 0,04 malam dibanding bulan sebelumnya.
"Untuk hotel non-bintang, rata-rata lama menginapnya 1,18 malam, naik 0,01 malam dibanding bulan sebelumnya," tuturnya.
Menurutnya, peningkatan tamu hotel bintang menunjukkan adanya perubahan preferensi wisatawan menjelang musim liburan panjang, termasuk meningkatnya kebutuhan wisatawan terhadap kenyamanan dan fasilitas yang lebih lengkap. (iza)
Editor : Meitika Candra Lantiva