JOGJA - Goresan canting melenggok tenang dan perlahan di atas kain. Bukan dari seorang pembatik tulen, tapi dari tangan yang dulunya banyak mengabadikan fakta dan peristiwa lewat kamera. Ya, dia adalah Dedi H Purwadi, mantan fotografer media. Ia kini fokus sebagai pembatik yang karyanya ia beri nama Batik Jolawe.
Dedi berkarir menjadi seorang jurnalis sejak 1990. Harian Bernas menjadi surat kabar pertama ia terjun secara resmi mengawali karirnya sebagai pemburu fakta. Hingga di akhir Agustus 2004, karir jurnalistiknya bertransformasi ke dalam lembaran-lembaran kain batik.
Selain menulis berita, ia juga sejak lama telah menaruh minat besar pada fotografi dan karya gambar. Dari kegemarannya mengabadikan peristiwa sejak di bangku SMP, ia rutin mengirimkan hasil jepretannya ke surat kabar dan majalah.
Berbekal kumpulan kliping reportase selama kuliah, pria lulusan Antropologi UGM ini nekat mengirimkan lamaran ke majalah JJ di Jakarta. "Lumayan cukup bagus itu. Nah, saya coba daftar itu berbekal portfolio berupa kliping-kliping reportase saya. Dari sekian ribu, saya termasuk satu dari tujuh belas orang yang diterima,” ujar Dedi.
Karir jurnalisnya bermula di tahun 1990 sebagai wartawan di Harian Bernas, Jogja. Selama di Harian Bernas, Dedi pernah menjabat asisten redaktur desk foto, redaktur desk foto, redaktur desk kota, redaktur desk opini, terakhir redaktur pelaksana merangkap redaktur desk opini.
Bersamaan usia Bernas, bersama itu pula dirinya telah mencukupkan diri di bidang jurnalistik. Sejak 2002, Dedi menerima tawaran menjadi fasilitator pelatihan jurnalistik untuk peliputan isu AIDS, gender dan kesehatan reproduksi, peliputan isu keluarga berencana dan kesehatan reproduksi serta pelatihan jurnalistik untuk reporter yang diselenggarakan LP3Y (Lembaga Pelatihan, Pendidikan, dan Penerbitan Yogya).
"Ya, kerja lagi sebagai trainer di situ. Karena tidak memproduksi media kan. Sebagai instruktur, trainer untuk calon-calon wartawan atau dari mana-mana. Kurang lebih 10 tahun. Terus 10 tahun kemudian kantor itu bubar. Sudah tidak ada hubungan lagi saya dengan pekerjaan jurnalis, selesai," ungkapnya.
Pola pikir dan pandangan hidup ketika menjadi jurnalis sedikit banyak berdampak pada cara Dedi berkarya dalam batiknya. News Values terus ia jaga dan praktikkan dalam setiap karyanya.
Keputusan penggunaan pewarna alami adalah bagian dari ia menerapkan unsur impact dalam berita. Sebagai seorang trainer, ia juga sangat mempertimbangkan kredibilitas sumber dalam mengembangkan batiknya.
"Karena kalau yang kita tidak sampai tidak benar, orang akan tangkapnya yang salah itu betul. Karena yang bikin jurnalis. Nah, saya ketika buka kelas batik, itu silakan orang mau memverifikasi. Silakan membandingkan. Silakan mencari acuan," katanya.
Misalnya, lanjut Dedi, dia menunjukkan acuannya. Ini referensinya. Bahannya ini silakan baca. Ini yang saya lakukan. Nah, silakan dengan metode sendiri. "Saya tidak pernah mengatakan metode saya paling bagus, metode saya paling benar. Tapi referensinya ini, silakan saja. Selama saya menyampaikan itu sesuai faktanya. Itu yang saya lakukan,” ujar Dedi.
Ia mengaku sebenarnya tidak memiliki bekal sama sekali dunia batik-membatik. Keterampilan ini ia pelajari dari sang istri, Wineng Endah Winarni, yang juga seorang jurnalis dan seangkatan dengannya sejak di Harian Bernas.
Dari rumah sendiri, Dedi dan istri kompak memutuskan merintis Batik Jolawe di Bangunjiwo, Bantul, sejak 2009 hingga saat ini.
"Saya belajarnya pewarna sintetis. Tapi kok saya lihat ada masalah nanti yang saya pelajari. Tidak sampai setahun. Saya sudah pakai pewarna alami. Pewarna alami harus belajar lagi dari 0. Nggak ada belajar khusus-khusus juga," katanya.
Akhirnya jalan seperti itu yang terus hingga kini. Ia terus mempelajari warna, dekorasi warna, dan inovasi warnanya seperti apa. Ia mengaku banyak juga orang yang belajar ke tempatnya. "Karena melihat pewarnaan saya, kekuatan warna saya," ungkapnya.
Hingga kini Dedi dan Wineng terus dan konsisten mengembangkan Batik Jolawe dengan berbahan pewarna alami yang lebih ramah lingkungan. Hal ini ia lakukan sebagai bagian dari meminimalkan dampak pencemaran lingkungan dari pewarna sintetis.
Pewarna alami yang biasa digunakan untuk Batik Jolawe, di antaranya, daun indigofera, kulit buah jolawe, akar mahoni, sabut kelapa, dan masih banyak lagi. (Salwa Mutia)