JOGJA - Perhatian terhadap profesi buruh gendong mulai diwujudkan, berupa penyediaan Bus Peduli Jasa Gendong.
Pengadaan moda transportasi gratis ini merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah kota (pemkot) dengan sektor usaha untuk mempermudah mobilisasi mereka.
Program tersebut diresmikan Kamis (27/11/2025) dan diinisiasi oleh Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah Baitul Maal Wat Tamwil (KSPPS BMT) Beringharjo.
Baca Juga: Komisi D DPRD Kebumen Ingatkan Proyek Tak Tepat Waktu Rekanan dan Masyarakat Akan Dirugikan
Ketua KSPPS BMT Beringharjo Mursida Rambe mengatakan, penyediaan bus ini penting, karena selama ini profesi yang ditekuni para ibu-ibu bahkan lansia itu harus mengeluarkan biaya pribadi untuk transportasi.
Dengan adanya Bus Peduli Jasa Gendong dapat meringankan beban pengeluaran harian para buruh gendong.
Lantaran bus berkapasitas 30 orang itu bisa diakses tanpa biaya oleh buruh gendong dan pedagang pasar dengan rute bolak-balik Sentolo-Pasar Beringharjo
Baca Juga: Manfaatkan Jeda Kompetisi, PSS Sleman Rekatkan Hubungan dan Gelar Fun Football Bersama Suporter
“Intinya kami ingin meringankan beban siapa pun yang terlibat dalam kegiatan ekonomi di Beringharjo,” ujar Mursida di sela peresmian Bus Jasa Peduli.
Wakil Wali Kota Jogja Wawan Harmawan menilai, buruh gendong memiliki peran besar dalam ekosistem ekonomi Pasar Beringharjo.
Sehingga dia mengapresiasi kepedulian sektor usaha terhadap profesi tersebut.
Baca Juga: Jadi Top Skor Sementara, Gustavo Tocantins Tak Mau Besar Kepala
Wawan yakin, keberadaan bus itu tidak hanya mempermudah mobilisasi. Namun juga meningkatkan keamanan perjalanan para buruh gendong dengan transportasi yang lebih layak.
“Ini adalah bentuk kepedulian nyata. Para pekerja jasa gendong sudah puluhan tahun menjadi bagian penting denyut ekonomi Pasar Beringharjo,” tegas Wawan.
Salah satu buruh gendong Pasar Beringharjo Rus mengaku sangat terbantu dengan bus gratis. Sebab setiap hari dirinya harus merogoh kocek hingga Rp 20 ribu untuk membayar biaya angkutan umum. Biaya itu hampir setara dengan penghasilan harian buruh gendong.
“Selama ini sebagian besar penghasilan saya habis untuk biaya transportasi, dengan adanya bus gratis ini rasanya sangat lega,” imbuhnya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita