JOGJA - Komisi B DPRD Kota Jogja menyoroti belum selesainya permasalahan sampah mendekati akhir tahun ini. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mencoreng citra pariwisata. Apalagi ketika memasuki musim libur panjang natal dan tahun baru (nataru).
Sekretaris Komisi B DPRD Kota Jogja Munazar mengatakan, daya tarik Yogyakarta sebagai kota budaya dan pariwisata kini tengah terancam oleh krisis darurat sampah. Hal itu tampak dari tumpukan pada berbagai depo. Seperti Lempuyangan, Suryowijayan, Nitikan, Mandala Krida, hingga Giwangan.
Munazar menyebut, fenomena itu tentu tidak hanya mengganggu estetika kota. Namun juga menjadi wajah retak pariwisara. Karena bau menyengat yang timbul dari tumpukan sampah akan berdampak pada kesehatan warga dan kenyamanan wisatawan.
“Persoalan ini sebagai cermin kegagalan tata kelola yang sistemik, bukan sekadar masalah teknis musiman,” ujar Munazar kepada Radar Jogja, Kamis (20/11/2025).
Politisi Partai Golkar ini menekankan, pemerintah kota (pemkot) seharusnya tidak hanya berfokus pada penanganan sampah. Namun juga mulai memperbaiki sistem pengelolaan dan perencanaan kota.
Sebab jika tidak ada solusi yang berkelanjutan, menurutnya, sampah akan menjadi masalah serupa yang terus berulang. Terlebih kini Kota Jogja juga dihadapkan fakta bahwa TPA Piyungan sudah dalam kondisi overload. Serta akan dihentikan operasionalnya pada tahun 2026 mendatang.
Oleh karena itu, Munazar berharap pemkot berhenti dengan kebijakan tambal sulam. Namun harus segera beralih ke sistem pengelolaan yang lebih desentralisasi. Termasuk belajar dari model TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) yang sukses diterapkan di kota-kota lain.
Disamping itu, dia juga mendorong agar pemkot bisa lebih masif dalam hal sosialisasi pemilahan sampah di masyarakat. Sebab kesadaran kolektif masyarakat merupakan salah satu solusi mengatasi darurat sampah.
“Pengelolaan sampah harus dimulai dari tingkat terkecil, seperti RT, RW, atau kelurahan, dengan melibatkan partisipasi aktif warga," tegas Munazar.
Sementara itu, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengakui, menghadapi musim libur panjang nataru pihaknya tetap akan mengandalkan TPA Piyungan. Sebab Kota Jogja masih memiliki kuota pembuangan sebesar 1.500 ton hingga akhir tahun mendatang.
Hasto optimistis, kuota yang diberikan oleh pemerintah provinsi (pemprov) tersebut dapat mengantisipasi membludaknya depo. Apalagi di tengah melonjaknya jumlah kunjungan wisatawan selama masa libur panjang.
“Sampai Desember kami akan memanfaatkan kuota 1.500 ton, supaya nanti pas nataru itu (depo) kami juga longgar,” bebernya. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin