SLEMAN – Jogja kini makin panas. Fenomena perubahan iklim yang melanda berbagai belahan dunia kini dirasakan nyata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dalam tiga dekade terakhir, suhu rata-rata di DIY melonjak dari kisaran 27–28 derajat celcius pada 1990-an menjadi mencapai 30 derajat celcius saat ini.
Menyadari kondisi semakin mengkhawatirkan tersebut, Indonesia dan Australia memperkuat kemitraan riset perubahan iklim melalui program KONEKSI, yang diperkenalkan dalam kegiatan Knowledge and Innovation Exchange (KIE) di Hotel Alana Yogyakarta, Rabu (19/11/2025).
Asisten Setda DIY Bidang Perekonomian dan Pembangunan Tri Saktiyana, menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi isu global yang jauh dari realitas masyarakat. Jogja merasakan dampak langsungnya.
“Dulu suhu rata-rata DIY hanya 27–28 derajat. Sekarang sering tembus 30 derajat. Ini bukti nyata iklim berubah,” ujarnya.
Tri berharap riset Indonesia–Australia dapat menghasilkan solusi konkret, bukan sekadar laporan akademik. Terlebih, kondisi cuaca di Indonesia, termasuk Yogyakarta, sangat dipengaruhi oleh pola iklim Australia.
“Harapannya riset benar-benar bermanfaat bagi masyarakat dari sisi perubahan iklim, bukan riset yang hanya untuk riset saja,” tambahnya.
Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN, Agus Haryono, mengungkapkan bahwa Australia merupakan salah satu mitra riset iklim paling aktif untuk Indonesia, dengan 69 proyek penelitian yang telah berjalan. Ia menekankan perlunya implementasi hasil riset agar dampaknya dapat langsung dirasakan masyarakat dan daerah.
“Saat ini kami meningkatkan kapabilitas periset Indonesia agar setara dengan komunitas peneliti global,” ujarnya.
Sementara itu, Utusan Khusus Australia untuk Urusan Samudra Hindia, Tim Watts, menegaskan komitmen negaranya memperkuat hubungan diplomatik dan jaringan kelembagaan dengan Indonesia. Salah satu wujudnya adalah pendanaan 350 juta dolar Australia untuk mendukung riset dan pendidikan di BRIN serta Kemendiktisaintek.
“Ini sebagai upaya menghadapi tantangan pembangunan yang semakin kompleks, termasuk perubahan iklim,” jelasnya.
Editor : Heru Pratomo