Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dipilih Pemerintah Pusat dan Gubernur DIY Jadi Nama Jembatan untuk Pengingat Jejak Sejarah Sunan Kabanaran

Cintia Yuliani • Kamis, 20 November 2025 | 02:29 WIB

 

Jembatan Kabanaran
Jembatan Kabanaran
 

 

 

JOGJA – Tak ada lagi Jembatan Pandansimo. Karena jembatan baru yang menghubungkan Kabupaten Bantul dan Kulon Progo itu resmi berganti menjadi Jembatan Kabanaran. Diresmikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, Rabu (19/1).

Nama Jembatan Kabanaran dipilih langsung oleh Gubernur DIJ Hamengku Buwono X. Dengan dasar historis lokasi yang kental dengan perjuangan Pangeran Mangkubumi atau Raja Pertama Keraton Jogja.

Lokasi jembatan berada di perbatasan area Sungai Progo yang menghubungkan Kabupaten Kulonprogo di Kapanewon Galur, Kalurahan Banaran dan Kabupaten Bantul di Kapanewon Srandakan, Kalurahan Poncosari.

Lokasi tersebut merupakan pusat markas perjuangan Pangeran Mangkubumi saat melawan Belanda tepatnya di Desa Kabanaran yang saat ini Kalurahan Banaran.

"Nilai penting lokasi tersebut diharapkan mampu menjiwai dan dimaknai sebagai upaya kebersamaan dalam perjuangan, ketangguhan, kebersamaan dalam mencapai cita-cita dalam kepemimpinan Pangeran Mangkubumi," kata Pranata Hubungan Masyarakat Ahli Madya Dinas Kominfo DIJ Ditya Nanaryo Aji saat dikonfirmasi, Rabu (19/11).

Sebelum bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I, Pangera Mangkubumi dinobatkan sebagai Sunan Kabanaran pada tanggal 11 Desember 1749. Peristiwa penting yang menjadikan Pangeran Mangkubumi diangkat sebagai raja di Kabanaran adalah ketika tersiar kabar bahwa Susuhunan Pakubuwana II jatuh sakit, di sekitar akhir 1749.

Karena kabar tersebut, Pangeran Mangkubumi didesak oleh pengikutnya untuk segera mengklaim takhta Mataram sebagai raja berikutnya. "Disebutkan Pangeran Mangkubumi segera memproklamasikan diri sebagai Raja Mataram, dan para pengikutnya menobatkannya di Kabanaran (atau Banaran)," jelasnya.

Dalam beberapa literasi, disebutkan Mangkubumi diangkat sebagai raja di desa Kabanaran pada Jumat Legi tanggal 1 Suro tahun Alip 1675, atau pada 11 Desember 1749. Dalam sumber lainnya, juga ada yang mengatakan pada 12 Desember 1749.

Para pengikutnya mengakui sang raja baru itu dengan gelar Sampeyan Dalem Sinuwun Kanjeng Susuhunan Senapati ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah.

"Dalam sumber lain disebutkan bahwa gelarnya adalah Susuhunan Adi Senapati Ngalaga ing Banaran, atau disingkat Sunan Kabanaran," tuturnya.

Setelah Keraton berdiri di sana, dalam berbagai sumber literasi yang ia dapatkan, Pangeran Mangkubumi lebih sering dijuluki sebagai Sunan Kabanaran. Penyebutan ini bertahan hingga Pangeran Mangkubumi mengubah gelarnya menjadi Sultan Hamengku Buwana I setelah penandatanganan Perjanjian Giyanti pada 1755.

 

Sementara itu, Prabowo dalam sambutannya menyampaikan  kawasan Jembatan Kabanaran memiliki arti historis. Ia menyebut lokasi itu merupakan tempat perjuangan Pangeran Mangkubumi melawan Belanda. 

 Baca Juga: Gunungkidul Tetapkan Skema Proposional sebagai Dasar Pembagian Nilai PIWK 2027

Menurutnya, keberadaan jembatan baru tersebut diharapkan dapat mempermudah konektivitas serta akses menuju kawasan yang ia sebut indah dan penting dalam budaya Jawa.  “Mempermudah akses juga kepada daerah yang begitu indah, yang begitu penting dalam budaya Jawa penuh spiritualitas,” ujarnya. 

 

Prabowo menilai sektor pariwisata harus terus didorong karena menjadi penyumbang devisa dan lapangan kerja yang besar. Ia menyebut pariwisata Indonesia tahun ini meningkat 20 persen, dan menilai capaian tersebut sebagai perkembangan berarti bagi perekonomian. (cin/gas/pra)

 

 

Editor : Heru Pratomo
#hamengku buwono #Sunan #HB X #Pakubuwana #Kulon Progo #Kominfo #Pangeran Mangkubumi #Bantul #jembatan pandansimo #Jembatan Kabanaran #mataram #Prabowo Subianto #gubernur diy #presiden