JOGJA - Transaksi menggunakan Qris di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengalami pertumbuhan yang signifikan.
Namun, fakta di lapangan masih ditemukan merchant atau penjual yang memberikan tambahan biaya jika bertransaksi menggunakan Qris.
Padahal dalam aturannya tidak ada penambahan biaya apabila nominal transaksi di bawah Rp 500 ribu.
"Jadi apabila ada warung atau toko yang menerapkan biaya tambahan itu berarti melanggar dan tidak boleh," ujar Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY Hermanto saat ditemui dalam acara temu media di salah satu hotel di Yogyakarta, Rabu (12/11).
Hal itu disampaikan untuk menjawab keresahan masyarakat yang menemui kasus penambahan biaya ketika melakukan transaksi menggunakan qris di salah satu merchant.
Ia menegaskan, kebanyakan transaksi qris di DIY 90 persen dilakukan oleh siswa ataupun mahasiswa dengan nominal transaksi di bawah Rp 500 ribu.
"Jadi memang 0, tidak ada tambahan biaya apapun. Adanya tambahan biaya hanya transaksi di atas Rp 500 ribu itu pun hanya 0,04 persen hingga 0,07 persen," jelasnya.
Menurutnya, pernah ada kasus di salah satu daerah di DIY dalam bentuk aduan masyarakat terkait adanya tambahan biaya saat bertransaksi menggunakan qris di salah satu merchant.
Warga tersebut mengeluh dan membuat surat aduan, kemudian ditindak lanjuti oleh petugas BI dengan menegur perusahaan atau warung terkait.
"Kalau ada laporan ke kami akan kami proses, tidak boleh merchant meminta biaya tambahan apapun," tandasnya.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DIY Sri Darmadi Sudibyo dalam kesempatan yang sama juga menyampaikan pertumbuhan transaksi qris di DIY berdasarkan data dari BPS.
Hingga September 2025, jumlsh pengguna qris mencapai 980.591 yang artinya tumbuh 7,42 persen (yoy).
Kemudian jumlah merchant yang sudah menggunakan qris ada 987.737 atau tumbuh 21,24 persen (yoy).
Nominal transaksi qris mencapai 5,42 triliun atau tumbuh 237,19 persen.
"Transaksi menggunakan qris tahun ini DIY terus mengalami pertumbuhan yang signifikan," ujarnya.
Pihaknya terus melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan pengguna qris di DIY.
Salah satunya berkolaborasi denga Dimas-Diajeng DIY untuk ikut mensosialisasikan qris kepada masyarakat.
Ia meyakini, lambat laun pedagang yang belum menggunakan qris akan beralih, ketika telah memahami kemudahan dan kelebihan menggunakan layanan tersebut.
Program yang belum lama dilakukan adalah mendaftarkan layanan andong agar bisa mengakses qris.
Hal itu untuk menarik minat dan antusias pengguna qris, ia akan memberikan apresiasi kepada para sopir andong yang terbanyak melakukan transaksi menggunakan qris. (oso)
Editor : Iwa Ikhwanudin