Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

BMKG: Puncak Musim Hujan Maju, Ini Tanda Banjir Bandang dan Cara Hindari Sambaran Petir

Iwa Ikhwanudin • Selasa, 11 November 2025 | 17:42 WIB
Petugas BPBD Kabupaten Gunungkidul melaksanakan pemotongan pohon di Jalan Nasional Wonosari - Jogja sebagai bentuk mitigasi bencana alam selama musim pancaroba.
Petugas BPBD Kabupaten Gunungkidul melaksanakan pemotongan pohon di Jalan Nasional Wonosari - Jogja sebagai bentuk mitigasi bencana alam selama musim pancaroba.

JOGJA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa Indonesia kini tengah memasuki puncak musim hujan yang datang lebih awal dari biasanya.

Intensitas curah hujan diprediksi tinggi, mencapai 300 hingga 500 milimeter per bulan, bahkan berpotensi melampaui angka tersebut di beberapa wilayah.

Peringatan ini disampaikan langsung oleh Kepala BMKG periode 2017–2025, Prof Ir Dwikorita Karnawati MSc PhD, saat menjadi pembicara dalam Workshop Peningkatan Kapasitas Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) UGM di Ruang Multimedia 1 UGM, Jumat (7/11/2025).

“Wilayah barat dan tengah Indonesia akan mengalami puncak hujan pada November hingga Desember."

"Sementara wilayah tengah dan timur mencapai puncaknya pada Desember hingga Februari,” kata Dwikorita.

Ia mendorong masyarakat, serta mahasiswa dan dosen UGM yang akan melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN), untuk mengunduh aplikasi InfoBMKG.

Aplikasi ini menyediakan prakiraan cuaca, kategori intensitas hujan, dan peringatan dini untuk mengantisipasi potensi bahaya cuaca ekstrem seperti longsor, banjir bandang, kilat atau petir, serta angin kencang.

Selain curah hujan tinggi, Dwikorita secara khusus menyoroti ancaman bahaya tersambar petir saat hujan berlangsung.

Ia membagikan tips penting untuk menghindarinya.

“Saat berada di luar ruangan, disarankan untuk merapatkan kaki atau mengangkat satu kaki guna meminimalkan risiko sambaran listrik, serta menghindari penggunaan alat komunikasi logam,” ujarnya.

Ia juga menyarankan untuk menjauhi kolam renang dan pohon, serta menghindari berdiri dekat tiang listrik, menara, atau di ruang terbuka saat hujan disertai petir.

Baca Juga: Melewati Beringin Kembar: Tradisi Masangin di Alun-Alun Kidul Jogja Antara Mitos, Sejarah, dan Wisata

Lebih lanjut, Dwikorita juga menjelaskan ciri-ciri awal ancaman banjir bandang yang dapat dikenali oleh masyarakat awam.

Tanda utamanya adalah perubahan kondisi air sungai.

“Kalau air yang biasanya jernih menjadi keruh dan deras, disertai aliran ranting atau batang kayu, tanda tersebut harus direspons dengan segera menjauh dan mencari tempat yang lebih tinggi,” ia memperingatkan.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Subdirektorat Integrasi dan Pengolahan Pemantauan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Linda Lestari, melaporkan data bencana terkini.

Hingga 15 Oktober 2025, tercatat sudah ada 2.590 kasus bencana di seluruh Indonesia.

“Kalau dibayangkan hampir satu hari bisa mencapai sekitar 10 laporan bencana, tentu ini perlu diatasi,” jelas Linda.

Ia mencontohkan beberapa wilayah dengan risiko spesifik, seperti Kecamatan Imogiri dan Dlingo di Bantul yang berpotensi tinggi banjir bandang, serta Pulau Morotai di Maluku Utara yang hampir seluruhnya berisiko gempa dan tsunami.

Linda menekankan agar mahasiswa dan DPL KKN memahami potensi risiko di lokasi penugasan masing-masing dengan memantau data melalui website atau aplikasi InaRISK.

“Kami mendorong pelaksanaan program kerja KKN yang berfokus pada peningkatan ketangguhan masyarakat, misalnya melalui pembuatan peta risiko bencana, pemasangan rambu dan jalur evakuasi, serta penguatan infrastruktur penanggulangan bencana,” tambahnya.

Peringatan dari BMKG dan BNPB ini menjadi bekal penting bagi 1.044 mahasiswa KKN PPM UGM Periode IV Tahun 2025 yang akan diterjunkan mulai 20 Desember 2025 hingga 7 Februari 2026.

Wakil Rektor UGM Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni, Dr Arie Sujito SSos MSi, berharap mahasiswa dan DPL dapat membangun budaya sadar risiko mitigasi bencana sejak dini.

“Kita biasanya baru tergerak untuk bicara risiko setelah ada kejadian. Mulai sekarang kita harus membangun sistem mitigasi yang mapan agar sense of crisis menjadi bagian dari kebiasaan dan pengetahuan,” ujarnya.

Direktur Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) UGM, Dr dr Rustamaji MKes, menambahkan bahwa para mahasiswa akan disebar di 10 provinsi dengan tema "Kedaulatan Pangan dan Lingkungan Hidup Berkelanjutan".

“Kami perlu memastikan kesiapan mahasiswa terhadap kondisi lingkungan, kesiapsiagaan, dan mitigasi di setiap lokasi,” tegas Rustamaji. (iwa)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Yogyakarta #puncak musim hujan #Dwikorita #mitigasi bencana #dwikorita karnawati