Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jogja Menyapa #6 Cara Istimewa Sambut Mahasiswa Baru. Bukan Kemewahan tapi Berikan Kehangatan

Agung Dwi Prakoso • Minggu, 9 November 2025 | 15:00 WIB
Berbaur jadi satu: Wakil Gubernur DIY Paku Alam X dan sejumlah kepala OPD Pemda DIY berfoto bersama pengunjung yang memadati Teras Malioboro Beskalan Jogja, tadi malam.
Berbaur jadi satu: Wakil Gubernur DIY Paku Alam X dan sejumlah kepala OPD Pemda DIY berfoto bersama pengunjung yang memadati Teras Malioboro Beskalan Jogja, tadi malam.

JOGJA - Rangkaian acara Jogja Menyapa #6 yang digelar di Teras Malioboro Beskalan, Jogja, resmi ditutup Sabtu (11/6) tadi malam. Acara spesial itu ditujukan untuk menyambut kehadiran mahasiswa baru. Mereka berasal dari berbagai daerah se-nusantara. Dari Sabang sampai Merauke. Dari Pulau Nias hingga Pulau Rote.


Teras Malioboro Malioboro dipenuhi ribuan pengunjung. Dari sudut ke sudut penuh dengan masyarakat. Semua ingin menyaksikan berbagai atraksi panggung di Amphiteater. Mayoritas pengunjung merupakan anak-anak muda.


Penutupan acara Jogja Menyapa #6 dihadiri oleh Wakil Gubernur DIY Paku Alam (PA) X, Sekda DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti, Paniradya Pati Paniradya Kaistimewan DIY Kurniawan dan segenap kepala organisasi perangkat daerah (OPD) Pemda DIY.


Gubernur DIY Hamengku Buwono X memberikan sambutan yang dibacakan Wakil Gubernur DIY Paku Alam X. Dalam pesannya, gubernur menegaskan, Jogja Menyapa #6 merupakan cara istimewa Jogja menyambut kunjungan masyarakat. "Jogja selalu punya cara istimewa untuk menyambut siapa pun yang datang bukan dengan kemewahan, melainkan dengan kehangatan," ujar Paku Alam X.


Tak hanya menyuguhkan berbagai macam pertunjukan seni. Namun acara tersebut menjadi cerminan semangat Jogja. Menjaga jati dirinya di tengah perubahan zaman. "Bagi para mahasiswa baru yang kini menapaki langkah awal di kota ini, saya ingin menyampaikan selamat datang di Yogyakarta. Tanah tempat ilmu, budaya, dan kebijaksanaan berjumpa," ucapnya.


Hamengku Buwono X menjelaskan, para mahasiswa bisa belajar berbagai ilmu di luar ruang kuliah. Pelajaran tepa selira, gotong royong dan andhap asor bisa ditemukan di tengah masyarakat. "Ilmu itu ada di pasar, di angkringan, di jalan, dan di tengah masyarakat," paparnya.


Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat itu mengajak generasi muda menjadi duta keistimewaan yang berpikir global dengan tetap berperilaku lokal dan berakar pada nilai. Bekal tersebut menjadikan generasi berdaya cipta menembus batas zaman. "Karena sejatinya, keistimewaan bukanlah sesuatu yang diwariskan begitu saja, melainkan sesuatu yang dijaga, diperbarui, dan diwujudkan dalam tindakan," ucap Paku Alam X.


Sekda DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti dalam laporannya mengatakan, Jogja Menyapa merupakan agenda rutin untuk memperkuat dalam pengembangan nilai-nilai keistimewaan. Dari sana kemudian tercipta komunikasi publik untuk menyampaikan makna keistimewaan kepada masyarakat. “Khususnya mahasiswa baru. Kami berkomitmen untuk menghadirkan ruang perjumpaan yang memperkuat identitas budaya Jogja," ucap Ni Made.


Pelaksanaan Jogja Menyapa #6 berlangsung selama dua hari. Berbagai acara digelar dari pagi hingga malam hari. Berlangsung sejak Jumat (7/11). Mulai olah raga seperti senam, donor darah, dan pentas kesenian. Ada juga Jogja Book Fair (JBF) yang menyediakan ribuan buku dengan harga relatif murah. Ada ribuan buku. Ada buku anak, novel fiksi, filsafat, politik dan berbagai buku lainnya.


Ada sebanyak 19 penerbit yang berpartisipasi. Mereka merupakan anggota Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DIY. Bazar buku berlangsung selama tiga hari hingga Minggu (9/11) besok. Penjaga Kasir bazar Vina Arimbi berharap kerja sama IKAPI dengan Pemda DIY dapat berlanjut terus. Berjalan secara berkesinambungan. Itu sebagai upaya mendorong peningkatkan perekonomian lokal. Sekaligus edukasi literasi di kota pelajar ini.


"Selama dua hari ini yang paling laku buku anak. Sudah lebih dari 100 buku yang terjual," papar Vina.

Baca Juga: Evaluasi Manajemen MBG, HB X Usulkan Sub Unit SPPG dan Optimalisasi Lumbung Mataram


Tahun ini Jogja Menyapa hadir dengan semangat baru. Menghadirkan platform budaya yang lebih inklusif. Edukatif dan kolaboratif bagi seluruh lapisan masyarakat. Jogja Menyapa #6 ini menjadi pilar penting menjaga harmoni sosial. Memperkokoh posisi Yogyakarta sebagai pusat budaya yang dinamis dan inklusif di tingkat nasional dan global.


Jogja Menyapa #6 juga memperkenalkan dan memperkuat pemahaman publik terhadap nilai-nilai keistimewaan DIY. Dengan begitu, semakin tertanam dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Tujuan lainnya, mendorong kolaborasi lintas sektor sehingga menciptakan ekosistem budaya. Beragam acara sukses terselenggara.


Semua itu semakin menegaskan semangat Jogja Menyapa sebagai ruang publik yang sehat, inklusif, dan penuh kepedulian. Suasana semakin hidup dengan talkshow Keistimewaan bertema “Lost in Jogja: Menemukan Ruang di Budaya yang Istimewa”. Kemudian Workshop Kain Perca. Menampilkan hasil karya kreatif peserta.


Paniradya Pati Paniradya Kaistimewan DIY Kurniawan mengatakan, partisipasi masyarakat terjalin selama Jogja Menyapa #6. Itu menjadi pilar penting menjaga harmoni sosial. Memperkokoh posisi Yogyakarta sebagai pusat budaya yang dinamis dan inklusif. “Semua saling berkolaborasi merawat serta mengembangkan kebudayaan Yogyakarta secara berkelanjutan,” jelas Wawan, sapaan akrabnya. (oso/kus)

Editor : Herpri Kartun
#teras malioboro #Jogja Menyapa 6 #Ni Made Dwipanti Indrayanti #Paniradya #PA X #Gubernur DIY Hamengku Buwono X