Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Waspada! DIY Bakal Hadapi Risiko Bencana, BMKG Prediksi Curah Hujan Selama November Sangat Tinggi

Iwan Nurwanto • Minggu, 2 November 2025 | 20:59 WIB

Ilustrasi hujan deras mengguyur Yogyakarta.
Ilustrasi hujan deras mengguyur Yogyakarta.

JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta memberikan peringatan dini terkait dengan kondisi cuaca saat ini.

Khusunya selama November yang kemungkinan curah hujannya masuk kategori sangat tinggi.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, curah hujan di bulan November melebihi 500 mm/bulan atau masuk kriteria menengah-sangat tinggi.

Kondisi tersebut meningkatkan potensi bencana hidrometeorologi berupa banjir dan tanah longsor.

“Kami menghimbau semua pihak untuk sangat waspada di bulan November. Sebab curah hujan yang diprediksi sangat tinggi dan sifat hujan atas normal,” ujar Reni dalam keterangannya, Minggu (2/11/2025).

Menurutnya, peningkatan curah hujan di akhir tahun disebabkan karena aktifnya angin baratan atau monsun Asia di bulan November.

Selain itu juga dipengaruhi mulai aktifnya Madden Julian Oscillation (MJO) di wilayah Indonesia bagian timur.

Reni menyebut, pada bulan Desember ada kemungkinan intensitas hujan mulai menurun.

Lantaran di akhir tahun curah hujan masuk kategori menengah-tinggi atau berkisar 151-500 mm/bulan dengan sifat hujan seluruhnya normal.

Meski demikian, masyarakat diimbau tetap siaga karena puncak musim hujan 2025/2026 diprediksi jatuh pada Januari dan Februari 2026.

Selama periode puncak musim hujan kriteria hujan masuk kriteria menengah-tinggi dengan kisaran 201-500 mm/bulan dengan sifat hujan normal.

“Sebelum memasuki puncak musim penghujan perlu membersihkan saluran-saluran air dan drainase agar dapat menampung besarnya volume air,” pesan Reni.

Selain itu, dia juga berpesan kepada masyarakat dan pemerintah daerah untuk mewaspadai berbagai potensi bencana hidrometeorologi. Seperti banjir dan tanah longsor pada wilayah rawan.

Kemudian juga penting untuk menyesuaikan pola tanam bagi petani. Serta memastikan kekuatan baliho di jalan raya dan memangkas pohon rawan tumbang untuk mengantisipasi timbulnya korban jiwa.

“Kami berharap pemerintah daerah dan masyarakat luas untuk lebih siap dan antisipatif terhadap dampak musim hujan,” katanya.

Menghadapi potensi banjir, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Nur Hidayat mengaku sudah menyiagakan early warning system (EWS) atau sistem peringatan dini bencana banjir. Total ada 26 EWS yang terpasang pada aliran sungai Kota Jogja.

Nur menyatakan, mitigasi banjir juga sudah dilakukan sejak daerah hulu. Salah satunya dengan menempatkan Sungai Ngentak di Sleman untuk indikator banjir.

Adapun sistemnya, jika Sungai Ngentak meluap hingga melebihi ketinggian dua meter maka dapat dipastikan Kota Jogja bakal menghadapi banjir.

Sehingga upaya mitigasi pun dapat dilakukan sebelum sungai-sungai di perkotaan meluap.

Disamping itu, pihaknya juga telah meminta 169 Kampung Tangguh Bencana (KTB) untuk siap siaga.Sebab mitigasi di tingkat masyarakat cukup efektif meminimalisasi dampak kerusakan maupun korban jiwa.

“Alat pemantau banjir kami ada di Sungai Gajah Wong, Sungai Code, Sungai Winongo serta Sungai Ngentak. Jika ketinggiannya melebihi batas maka akan memberi peringatan kepada masyarakat,” bebernya. (inu)

Editor : Bahana.
#Bencana Alam #BMKG