Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dinkes Gunungkidul Klaim Stunting Turun Jadi 16,22 Persen, Masih 4.917 Balita Alami Gangguan Pertumbuhan: Fokus Intervensi Gizi

Yusuf Bastiar • Senin, 27 Oktober 2025 | 02:11 WIB
Ilustrasi anak sedang beramain layangan.
Ilustrasi anak sedang beramain layangan.

GUNUNGKIDUL – Pemkab Gunungkidul mengklaim telah berhasil menurunkan angka stunting. Dari hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) dan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) menunjukkan tren positif.

Di Gunungkidul, prevalensi menurun dari 22,2 persen pada 2023 menjadi 19,7 persen pada 2024.

“Tahun 2025 kami menargetkan penurunan hingga 18,8 persen. Masih perlu kerja keras lintas sektor agar target ini bisa tercapai,” ungkap Nutrisionis Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul Elinda Wahyu Pertiwi saat dikonfirmasi Minggu (26/10/2025).

Elinda menjelaskan, penurunan stunting menjadi prioritas utama dengan menerapkan delapan aksi integrasi intervensi penurunan stunting di seluruh wilayah.

“Ini instrumen yang digunakan untuk meningkatkan pelaksanaan intervensi gizi dalam penurunan stunting,” ujarnya.

Berdasarkan hasil pemantauan status gizi semester I 2025 yang dilakukan Dinkes Gunungkidul, tercatat 4.917 balita atau 16,22 persen dari 30.311 balita yang diukur masih mengalami stunting.

Capaian pengukuran tersebut mencakup 91,65 persen dari total sasaran 33.073 balita di seluruh wilayah.

Data dihimpun dari 30 puskesmas, dengan hasil bervariasi. Puskesmas Playen II (21,49 persen), Patuk I (21,4 persen), dan Karangmojo II (21,19 persen) tercatat memiliki prevalensi tertinggi. Sementara Purwosari menjadi wilayah dengan angka stunting terendah, hanya 7,91 persen.

Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinkes Gunungkidul Trianawati menegaskan capaian sementara 16,22 persen menunjukkan kabupaten ini berada di jalur positif menuju target nasional penurunan stunting di bawah 14 persen pada 2027.

Menurutnya, pengukuran data prevalensi stunting penting sebagai dasar perencanaan kebijakan lintas sektor.

Data hasil pengukuran tinggi badan balita dimasukkan ke dalam aplikasi elektronik Sigizikesga oleh petugas gizi puskesmas, lalu divalidasi oleh Dinkes.

“Validasi data penting untuk memastikan keakuratan hasil pemantauan. Pengukuran dilakukan dua kali setahun, bertepatan dengan bulan penimbangan balita dan distribusi vitamin A pada Februari dan Agustus,” jelasnya.

Trianawati menambahkan, data prevalensi stunting semester I tahun 2025 ini akan menjadi dasar penyusunan kegiatan lebih terarah dalam percepatan penurunan stunting.

“Kami terus menggalang kerja sama antarpetugas puskesmas dan lintas OPD agar kegiatan intervensi gizi bisa berjalan lebih terintegrasi dan berkelanjutan,” imbuhnya. (bas/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Dinkes gunungkidul #Intervensi Gizi #Stunting #Prevalensi