JOGJA - Sentra kerajinan perak di Kemantren Kotagede yang tengah terpuruk coba kembali dihidupkan. Salah satunya melalui Festival Perak Kotagede #2.
Mengusung tema Jejak Perak Inspirasi Futuristik: Dari Tradisi ke Inovasi, kegiatan dilaksanakan Kamis (23/10/2025) dari pukul 09.00 hingga 16.00.
Mantri Pamong Praja Kemantren Kotagede Komaru Ma'arif mengatakan, popularitas Kotagede yang dikenal sebagai sentra kerajinan perak di Indonesia kian menurun seiring berkembangnya zaman.
Ada beberapa faktor, karena bahan baku yang terlampau mahal dan tidak adanya regenerasi perajin.
Lalu juga persaingan antarlogam mulia, seperti lebih banyak masyarakat menggunakan emas.
Oleh karena itu, Komaru berharap, lewat festival tersebut bisa mengembalikan kejayaan Kotagede yang dulu pernah ada.
Sehingga para perajinnya bisa kembali sejahtera dan predikat sentra perak terus dipertahankan.
“Kami ingin membangkitkan kembali semangat itu dan mengenang kejayaan lama, sekaligus memperkenalkan kembali perak Kotagede kepada masyarakat luas,” ujar Komaru saat ditemui di Balai Kota Timoho, Rabu (22/10/2025).
Festival Perak Kotagede akan dikemas dengan sentuhan modernisasi. Misalnya ada workshop interaktif, demo pembuatan perak, launching sistem informasi tentang perak berbasis website, dan pameran kuliner serta hiburan khas Kotagede.
Dia menyebut, salah satu kegiatan yang paling menarik ada dalam workshop. Sebab hanya dengan membayar uang pendaftaran Rp 100 atau 200 ribu, pengunjung bisa belajar langsung teknik dasar pembuatan perak bersama para perajin dan dosen ahli.
“Peserta dapat membawa pulang hasil karyanya sendiri,” jelasnya.
Sementara itu, salah satu perajin perak Umi Nurhasanah berharap, festival tersebut dapat menjadi ruang pamer karya bagi para perajin.
Sehingga minat publik untuk menggunakan kerajinan perak bisa terus meningkat.
Umi menyatakan, industri perak sejatinya memiliki potensi yang cukup baik. Meskipun harus diakui peminatnya mengalami penurunan sejak dua puluh tahun terakhir.
Misalnya dulu perajin mampu mendapat pesanan 15 kilogram perak, kini hanya mampu 6 sampai 7 kilogram per bulan.
Menurutnya, tingginya harga bahan baku perak menjadi salah satu penyebab perajin perak sulit bertahan. Sebab harga satu kilogram bahan baku perak mencapai Rp 30 juta.
Selain itu, sentra kerajinan perak kini juga tengah melawan krisis regenerasi perajin. Lantaran diketahui banyak anak muda yang enggan menekuni profesi tersebut.
Bahkan perajin muda di Kotagede kini hanya sekitar 35 persen dari sekitar 200-an perajin.
“Kami terus mencoba meregenerasi, salah satunya dengan mengajari anak-anak muda agar bisa jadi generasi penerus,” tambahnya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita