Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bangkit dari Mati Suri, Festival Barang Antik Semarakkan Pasar Klithikan Pakuncen Jogja

Agung Dwi Prakoso • Senin, 20 Oktober 2025 | 04:12 WIB

 

KEMBALI BERGAIRAH: Suasana pengunjung event Loakarta di Pasar Klithikan Pakuncen Jogja, Minggu (19/10).
KEMBALI BERGAIRAH: Suasana pengunjung event Loakarta di Pasar Klithikan Pakuncen Jogja, Minggu (19/10).

JOGJA - Setelah bertahun-tahun gaungnya tak terdengar, kini Pasar Klithikan Pakuncen diserbu oleh ribuan pengunjung. Mereka datang untuk meramaikan gelaran Festival Barang Antik dengan tajuk Loakarta yang digelar selama lima hari, 18-22 Oktober.

Konseptor Acara Loakarta Adi Bayu mengatakan, inisiasi menggelar acara itu berangkat dari keresahan yang ia rasakan. Pasar yang berada di Jalan HOS Cokroaminoto, Pakuncen, Wirobrajan, Kota Jogja itu dulu jaya dan terkenal. Namun seiring bergantinya tahun semakin sepi, bahkan kondisinya mengenaskan.

"Kebetulan kami ditunjuk oleh Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Jogja dan Komis B DPRD Kota Jogja untuk membuat program menghidupkan kembali Pasar Klithikan Pakuncen," ujarnya saat ditemui di Pasar Klithikan Pakuncen, Minggu (19/10).

Sebelum membidik program, ia memulai dengan riset kecil terkait kondisi pasar beserta ekosistemnya. Ada sekitar 710 kios yang tersedia, tapi hanya setengahnya yang terpakai. Itu pun tidak aktif dan hanya untuk menyimpan barang dagangan. "Yang aktif berdagang sekitar 70 kios," ucapnya.

Ia juga menyebut rata-rata pengunjung harian di pasar itu kurang dari 50 orang. Padahal dulunya pasar itu sangat terkenal dan pengunjungnya selalu membeludak setiap harinya. Sekitar tahun 2011-2013.

"Sarana dan prasarana di sini juga memprihatinkan. Atap banyak rusak dan akses yang kurang aksesible," paparnya.

Dari sana ia kemudian membuat event Loakarta. Tujuannya menghidupkan kembali Pasar Pakuncen yang telah lama mati suri. Banyak program dilaksanakan selama lima hari penyelenggaraan. Ia juga mengundang sekitar 150 pedagang barang antik dan loak untuk membuka lapaknya dalam gelaran tersebut.

"Hari pertama kemarin, pengunjungnya membeludak. Ada sekitar 7.000 pengunjung dalam sehari," jelasnya.

Melihat potensi emas itu, ia tergugah untuk menciptakan era baru Pasar Pakuncen sebagai destinasi pasar unik dengan identitas yang lebih menarik. Ke depan, kerja sama brand juga memungkinkan untuk dilakukan agar pasar semakin hidup.

 

"Merespons pasar yang sedang ekosistemnya hancur, mengembakikan kejayaan dengan format baru. Ada potensi menjadi pusat kegiatan kreatif, solusi untuk wisata alternatif lokal dan tongkrongan anak muda," terangnya.

Menurutnya, masih terdapat beberapa kendala yakni sarpras yang kurang mendukung dan fasilitas umum yang perlu diperbarui karena mangkrak. Pemerintah, lanjutnya, juga perlu memperhatikan pembangunan fasilitas baru yang memungkinkan anak muda untuk kembali berkarya.

"Semoga bisa terbentuk ekosistem pasar yang setiap hari hidup, bukan temporari ketika ada event aja," jelasnya.

Ketua Paguyuban Pelaku Pedagang Pasar Kuncen (PPPK) Mudhofar Wisnu menambahkan, kondisi pasar sebelum event berlangsung hampir 70 persen lampu sudah mati. Listrik banyak yang konslet hingga atap rusak. Para pedagang kemudian dikerahkan untuk kerja bakti sebelum acara berlangsung.

"Banyak pedagang yang awalnya ragu, karena pasar ini stigmanya sudah negatif. Saya pengen membuktikan bahwa acara ini bisa menjadi jembatan," ujarnya.

Terbukti, saat hari pertama, pengunjungnya memebludak. Itu adalah momen membahagiakan yang ia rasakan sejak kunjungan Pasar Pakuncen menurun drastis. Faktor yang mempengaruhi penurunan pengunjung itu, menurutnya, dimulai ada insiden kebakaran tahun 2014. Ditambah lagi pergeseran penjualan dari toko fisik ke digital.

"Saya pulang sampai rumah itu nangis, terharu melihat momentum itu. Harapannya banyak komunitas bisa mengadakan kegiatan rutin di sini," paparnya.

Langkah selanjutnya, ia bekerja sama dengan Dinas Perdagangan Kota Jogja untuk menertibkan lapak di sana. Kembali menawarkan kepada para pedagang yang lama tutup terkait komitmennya untuk kembali berjualan.

"Menertibkan lapak mangkrak dan mengisi lapak kosong memberi kesempatan bagi pedagang yang ingin masuk, namun dengan syarat komitmennya," tegasnya.

Kepala Bidang Pasar Rakyat Disperindag Kota Jogja Gunawan Nugroho Utomo mengatakan, pihaknya juga ikut dalam proses relokasi Pasar Pakuncen di tahun 2004. Pedagang di sana sebelumnya berjualan di kawasan Jalan Mangkubumi dan sekitar Alun-Alun Selatan. "Perlahan kemudian sini jaya, sangat ramai dulu," ujarnya.

Langkah yang akan ia lakukan adalah meliakukan revitalisasi fisik dan sosial. Fisik terkait bangunannya pada usulan anggaran 2026 dan sosial sudah dilakukan dengan pendampingan dan pendekatan kultural kepada para pedagang.

"Kami rencana menerapkan konsep pasar rakyat hybrid. Versi offline jangan dimatikan, tapi online-nya harusnya jalan," apparnya.

Para pedagang juga terlibat aktif berdiskusi dengan dinas terkait melalui semacam angket tertulis yang mewadahi permasalahan di setiap pasar di Kota Jogja. Total ada 29 pasar di Kota Jogja.

Anggota Komisi B DPRD Kota Jogja Oleg Johan juga mendukung program mengembalikan kejayaan Pasar Pakuncen. Ia berharap, adanya ciri khas dari pasar tersebut. "Untuk menjadi daya tarik pengunjung," sebutnya.

Ia melakukan evaluasi setiap tiga bulan terhadap program-program menghidupkan pasar tradisional di Kota Jogja. Melihat event Loakarta, ia menyimpulkan banyaknya kunjungan dipacu oleh promosi media sosial.

"Tidak ada salahnya besok mengundang selebgram, afiliator dan sebagainya untuk ikut mempromosikan pasar ini," bebernya. (oso/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Festival Barang Antik #Loakarta #dprd kota jogja #pasar klithikan #pasar #Pasar Klithikan Pakuncen #Disdag #Dinas Perdagangan #pasar pakuncen