Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Buntut Ekspor Udang Indonesia ke Amerika Tak Berdampak Signifikan di DIY, Panenan Nelayan Tersersap Baik di Daerah

Agung Dwi Prakoso • Senin, 20 Oktober 2025 | 10:30 WIB

 

 

Ilustrasi ekspor DIY.
Ilustrasi ekspor DIY.

RADAR JOGJA - Komoditas ekspor udang beku Indonesia sempat bermasalah dengan Amerika Serikat beberapa waktu lalu. Sebab, beberapa sampel udang ditemukan mengandung isotop radioaktif Cesium‑137 (Cs‑137). Secara nasional, hal itu cukup mempengaruhi ekosistem ekspor udang di Indonesia. Namun dampak di DIY tidak terlalu signifikan.

"Secara umum produksi udang di DIY ini kan relatif kecil," ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) DIY Hery Sulistio Hermawan saat ditemui di Kantor DKP DIY, Kamis (16/10).

Selain itu, distribusi udang hasil tangkapan nelayan di DIY telah terserap baik oleh masyarakat lokal. Banyaknya permintaan, khususnya di industri kuliner di DIY, menjadi solusi untuk permasalahan ekspor udang DIY.

"Di sini kan banyak terdapat industri rumah makan, hotel dan restoran yang membutuhkan komoditas udang," bebernya.

Sebagian hasil tangkapan juga dikirim melalui pelabuhan Semarang atau Surabaya baik untuk di ekspor atau dijual ke luar daerah. Biasanya, hasil tangkapan nelayan DIY digabungkan dengan daerah lain untuk di ekspor ke luar negeri. "Selama kami berproduksi, selama ini mereka tetap siap menampungnya," jelasnya.

Hasil tangkapan udang di DIY didapatkan melalui tambak buatan maupun tangkapan laut lepas. Menurutnya, potensi ekspor udang dari DIY saat ini masih terbuka lebar. Hal itu dibuktikan dengan tidak adanya keluhan dari para nelayan terkait kesulitan ekspor dan sebagainya. "Artinya kan pasar kita masih bagus," tandasnya.

Terpisah, dosen Teknologi Hasil Perikanan UGM Indun Dewi Puspita SP, M.Sc. Ph.D mengatakan, permasalahan ini hendaknya menjadi sorotan seluruh pemangku kepentingan. Mulai petambak, industri pengolahan, eksportir, hingga pemerintah.

Sebab, itu menyangkut reputasi Indonesia di mata dunia. "Khususnya untuk jaminan mutu produk perikanan Indonesia,” ujarnya.

Kemudian dari sisi ekonomi, permasalahan ini berpotensi membawa kerugian pada rantai pasok, mulai distribusi hingga distribusi. Kondisi ini memperlihatkan rapuhnya posisi industri pangan ketika standar keamanan tidak dipenuhi dengan baik. Jika dibiarkan, risiko kehilangan pasar ekspor bisa semakin nyata.

"Kerugiannya sangat besar dan di sisi lain perdagangan produk perikanan Indonesia menjadi catatan di perdagangan global. Sehingga jaminan mutu harus benar-benar diperhatikan," bebernya.

Potensi penurunan harga lokal hingga pembatasan ekspor dinilai bisa merugikan petambak yang sudah mengeluarkan modal besar dalam budi daya. Kondisi ini menimbulkan kerentanan baru bagi petani kecil yang menggantungkan hidupnya dari udang.

Jika tidak diantisipasi, efek domino dari penolakan ini bisa berimbas pada perekonomian daerah. "Kalau harga turun, kerugian bisa signifikan bagi petambak maupun pembudidaya karena udang membutuhkan biaya produksi yang tinggi," ungkap Indun.

Keterbukaan informasi dan sistem traceability, lanjutnya, dinilai penting untuk mengembalikan kepercayaan pasar global. Selain itu, sistem pelacakan juga dapat mempercepat langkah koreksi sehingga tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar.

Dengan cara ini, pelaku usaha bisa menunjukkan keseriusan mereka menjaga kualitas produk. "Respons yang cepat dan transparan menjadi hal yang sangat penting untuk mengembalikan citra dan kepercayaan dari pasar global,” jelas Indun.

Menurutnya, zat radioaktif Cesium-137 tidak terbetuk secara alami. Namun berasal dari aktivitas manusia seperti uji coba senjata nuklir atau kebocoran reaktor. Sifatnya yang bertahan lama membuat zat ini berpotensi masuk ke rantai pangan melalui air atau lahan tambak yang terkontaminasi, termasuk ke udang.

Hal ini menunjukkan bahwa faktor eksternal di luar kendali petambak juga bisa memengaruhi kualitas produk. "Siklus alami memungkinkan zat ini menyebar ke lingkungan perairan dan mempengaruhi biota, termasuk udang,” jelasnya.

Riset, inovasi, dan sistem keamanan pangan perlu diperkuat dengan menggandeng akademisi. UGM misalnya, terus mengembangkan riset deteksi cepat serta bioindikator untuk mencegah kontaminasi sejak dini.

Selain itu, perguruan tinggi juga berkontribusi melalui pelatihan, sosialisasi, dan masukan kebijakan. "Kontribusi perguruan tinggi penting dalam riset, pengabdian, hingga perumusan kebijakan untuk mencegah kontaminasi pada produk perikanan," ucapnya. (oso/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#dinas kelautan dan perikanan #DKP #Udang beku Indonesia #radioaktif Cesium #Nelayan #DIY #industri kuliner #ekspor udang #komoditas ekspor #udang #Amerika Serikat #isotop