Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ratusan Siswa SMAN 1 Jogja Keracunan MBG, Diduga Proses Masak Kemruputen

Iwa Ikhwanudin • Jumat, 17 Oktober 2025 | 00:30 WIB
Kepala Sekolah SMAN 1 Jogja Ngadiya (kanan)
Kepala Sekolah SMAN 1 Jogja Ngadiya (kanan)

 

JOGJA - Kasus dugaan keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di DIJ. Ratusan siswa SMAN 1 Jogja mengalami demam hingga diare usai menyantap menu MBG yang disediakan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wirobrajan.


Kepala Sekolah SMAN 1 Jogja Ngadiya menyampaikan, Kamis (16/10) pihak sekolah menerima laporan dugaan keracunan dari para siswa. Mereka melaporkan sekitar pukul 01.00 hingga 03.00 dini hari banyak siswa yang mengalami sakit perut.


"Ada yang diare sampai dua tiga kali, tapi ada yang hanya sakit perut saja," ujarnya saat ditemui wartawan di Kompleks Gedung SMA Teladan Jogja, kemarin (16/10).


Kemudian saat pagi, ketika siswa mulai berangkat ke sekolah, Ngadiya melakukan pengecean ke seluruh kelas untuk memastikan laporan itu. Dari total 972 siswa yang terdiri atas kelas 10 sampai 12, terdata 426 siswa mengalami sakit perut saat malam hari.


"Kalau kami persentase 43,28 persen yang tadi malam sakit perut," paparnya.
Beberapa siswa itu, menurutnya, telah kembali berangkat ke sekolah kemarin. Namun sebanyak 33 siswa terkonfirmasi absen tidak masuk sekolah. Siswa yang tidak berangkat memberikan keterangan mulai sakit hingga izin dan alasan lainnya.


Kemarin pagi, lanjutnya, pihak SPPG Wirobrajan, perwakilan Puskesmas Wirobrajan, Balai Dikdasmen dan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (Disdikpora) DIJ juga mendatangi SMAN 1 Jogja. Mereka melakukan konfirmasi atas kejadian yang menimpa para siswa.


"Dari SPPG mengakui kemungkinan memang ada keracunan dari MBG-nya, yaitu dari ayamnya," ucapnya. Informasi yang ia dapat, SPPG Wirobrajan mengakui terdapat kesalahan dalam proses memasak hingga distribusi makanan.


Proses masak MBG diduga terlalu dini, sehingga menyebabkan menu yang ada di dalam MBG bermasalah. Menurutnya, SPPG juga bersedia bertanggungjawab untuk meng-cover biaya pemeriksaan di Puskesmas dan sebagainya.


"Kalau tadi dari SPPG-nya katanya masaknya kemruputen gitu. Jadi terlalu mruput masaknya, sehingga dikirim ke sini sudah agak lama. Mestinya kan masaknya pukul 08.00, lalu pukul 09.00 di-packing dan nanti pukul 11.00 dikirim ke sini," jelasnya.


Pihak SPPG Wirobrajan, menurutnya, juga telah melakukan pengecekan di beberapa sekolah sekitar yang menjadi wilayah tanggung jawab mereka dalam distribusi MBG. Namun yang bermasalah hanya SMAN 1 Jogja.


"Tadi dari SPPG juga ngontrol di sekolah lain barangkali ada, ternyata cuma sini. Jadi yang telat kemruputen cuma sini, yang lainnya beres," paparnya.


Urutan kejadiannya, MBG didistribusikan pada Rabu (15/10). Sekitar pukul 11.00 MBG tiba. Pembagian kepada siswa dilakukan seperti biasanya, saat jam istirahat kedua pukul 11.45. Pukul 13.30 ompreng dikembalikan lagi, kemungkinan para siswa menyantap MBG pukul 11.45-12.30. Setelah siswa sampai rumah, pada Kamis (16/10) dini hari banyak siswa diare. Beberapa siswa yang masuk sekolah kemarin juga masih mengeluh sakit perut.


"Tadi pagi masih ada yang merasa sakit perut terus ke UKS dan dikasih obat diare. Ini kejadian kali pertama," ucapnya.


MBG di SMA ini tergolong sudah lama berjalan, mulai 19 Agustus 2025. Sejauh ini berjalan baik dan lancar. Namun biasanya beberapa siswa memang memilih untuk tidak mengambil MBG.
"Ada (anak) yang tidak mau. Ada satu kelas hanya minta 26, padahal isinya 36 siswa. Ada 10 siswa yang tidak mau, ya tergantung orang tuanya mau atau tidak. Kami data," bebernya.


Keterangan yang didapat, gejala awal sakit perut melilit hingga diare. Tidak ada siswa yang merasakan mual atau pusing. Secara visual, MBG saat itu tidak ditemukan kejanggalan, tapi secara rasa beberapa anak merasakan keanehan, khususnya pada olahan ayam yang disajikan.


"Ya, katanya ada yang rasanya kok beda. Mungkin anak disangkanya ini dari bumbunya beda gitu. Menunya ada nasi, sayur, ayam seperti bacem dan buah," ujar Ngadiyo.


Informasi yang ia dapat, belum ada siswa yang sampai dirujuk ke rumah sakit. Beberapa di antaranya hanya di bawa ke Puskesmas oleh orang tuanya dan langsung pulang. "Rawat inap tidak ada, mudah-mudahan juga tidak ada," terangnya.


Terpisah, salah seorang siswa kelas 12, Veda mengakui juga mengalami diare bahkan demam di malam harinya usai menyantap MBG. Perempuan 17 tahun ini, padahal biasanya tidak ikut mengambil jatah MBG. Naas, di hari itu ia ikut makan tapi malah sakit perut.


"Kebetulan juga kemarin saya lupa ngelist buat tidak ambil. Otomatis saya harus makan kan,mau ga mau saya makan aja gapapa. Tapi malah jadi sakit perut. Udah pernah ngambil tapi lama engga, karena menunya kayak kurang menarik gitu bagi saya," ungkapnya.


Ia mengaku tidak menemukan kejanggalan baik secara visual maupun rasanya saar menyatap MBG. Ia pun menduga bahan yang bermasalah ada pada saus barbeque pada ayamnya.


"Sebenarnya tidak ada rasa aneh apa pun. Cuma ga tau kenapa pas pulang itu langsung demam, terus saya diare," terangnya.


Ada dua siswa teman kelasnya yang tidak berangkat. Ia juga masih merasakan sakit di bagian perut. Rencananya, se pulang sekolah ia akan periksa ke rumah sakit. "Kayaknya nanti mau ke RS mau cek. Ini masih sakit perut, tadi udah tiga kali diare," ungkapnya.


Akibat kejadian itu, ia memutukan tidak mengambil MBG lagi. Itu disebabkan karena trauma sakit perut yang ia rasakan. "Udah trauma. Gak mau lagi," tandasnya.


Sementara itu, salah seorang siswi, sebut saja Meitika, justru tidak mengalami diare seperti yang diderita teman-teman sekelasnya. "Saya setiap hari diminta Meitika untuk membuatkan bekal makan dari rumah. Entah mengapa, anak saya enggan ikut mengonsumsi menu MBG yang disediakan di sekolahnya," tutur ibunda Meitika yang enggan disebutkan namanya kepada Radar Jogja, kemarin siang (16/10).


Makanan rumahan yang dibawa itulah yang dikonsumsi Meitika di sekolah. Saat temen-temannya banyak yang absen karena sakit, didominasi karena diare, Meitika justru terlepas dari sakit perut. "Puji Tuhan, anak saya malah aman. Tidak terkena diare seperti yang diderita teman-temannya,’’ ungkap ibunda Meitika.


Siswa yang sekelas dengan Meitika, sebanyak 15 orang di antaranya mengajukan izin tidak masuk sekolah karena diare. "Anak saya termasuk yang justru aman, terhindar dari diare karena bawa bekal makanan dari rumah," ’ tambah ibunda Meitika.


Pihak SPPG Wirobrajan hingga kini belum memberikan tanggapan saat dihubungi soal peristiwa ini. Pihak pengelola SPPG pun belum bersedia memberikan keterangan saat didatangi di lokasi dapur MBG. (oso/iwa/laz)

Editor : Herpri Kartun
#keracunan #demam #diare #Disdikpora DIJ #Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi #Makan Bergizi Gratis (MBG)