JOGJA - Program memberikan fasilitas makan siang bagi para siswa di sekolah sebenarnya bukan hal baru. Salah satu yang telah lama melaksanakannya adalah SMP Budi Mulia Dua (BMD) Jogjakarta. Sekolah yang berlokasi di Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, Sleman ini memiliki 200 siswa.
Kepala Sekolah SMP BMD Jogjakarta Tri Widaryanto menjelaskan, makan siang untuk siswa ini telah diberikan sejak sekolah berdiri pada tahun 2014. Program ini juga turut menyasar guru dan karyawan sekolah.
Ia menjelaskan, sekolah akan memberi fasilitas snack terlebih dahulu pada istirahat pertama sekitar pukul 09.30. Lalu untuk makan siang pada pukul 11.30. Di dalamnya berupa nasi, sayur, lauk, buah, krupuk, dan infused water.
"Hal ini karena konsep kami full day, Jadi ada fasilitas makan setiap hari. Kegiatan belajar itu sampai pukul 15.30," terangnya ditemui di SMP BMD Jogjakarta, Kamis (9/10).
Tri menjelaskan, untuk produksi makanan tidak berada di sekolah. Namun di dapur kuliner yayasan yang berlokasi di Seturan. Sementara di sekolah hanya ada mini kitchen untuk menyiapkan dan menghangatkan makanan yang telah dimasak.
Mini kitchen ini langsung terhubung dengan fasilitas tempat makan. Di ruangan ber-AC ini berjejer kursi dan meja dengan fasilitas cuci tangan. Di sini para siswa akan mengantre mengambil makanan yang bisa disesuaikan dengan porsi masing-masing.
Untuk menunya ditentukan dari dapur kuliner. Hanya saja dari sekolah akan menginfokan kepada orang tua makanan yang disajikan setiap satu minggu. Para siswa secara berkala juga disediakan jajak pendapat untuk memberi masukan jenis menu yang disukai.
"Dari menu yang dibagikan, orang tua bisa mempersiapkan kalau ada yang bisa menyebabkan alergi," tambahnya.
Menurut Tri, sejak program berjalan belum pernah ada kejadian keracunan makanan. Dia menilai hal ini lantaran supervisi yang ketat. Yayasan dalam hal ini mengontrol pengadaan bahan, proses pemasakan, petugas, sampai distribusi.
"Jadi kalau di sini tinggal menerima. Guru juga tidak dibebani tugas karena malah ikut jadi penerima manfaat," tambahnya.
Walau demikian, dia menyebut pihak sekolah juga terus berkoordinasi dengan dapur kuliner apabila ada masukan. Sekolah dan dapur yang berada di bawa satu payung yayasan, dia nilai juga mempermudah proses komunikasi.
Disinggung soal program makan bergizi gratis (MBG) dari pemerintah, Tri menyebut belum ada komunikasi terkait hal ini. Apabila nanti sekolahnya ternyata jadi sasaran, yang akan dapat memutuskan adalah yayasan. Bukan dirinya secara personal. (del/laz)