JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta memprediksi musim hujan tahun ini akan datang lebih awal. Masyarakat pun diminta lebih waspada terhadap potensi cuaca ekstrem.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, pertengahan Oktober ini sudah memasuki musim hujan.
Jauh lebih awal sepuluh hari dibandingkan normalnya. Sebab musim penghujan biasanya jatuh pada bulan November.
“Awal musim hujan tahun ini diprediksi maju satu dasarian (10 hari) dari rata-ratanya,” ujar Reni dalam keterangannya, Minggu (12/10/2025).
Dia menyebut, peningkatan curah hujan didukung oleh beberapa faktor dinamika atmosfer.
Misalnya karena angin monsun Australia yang akan segera digantikan oleh monsun Asia pada bulan November.
Lalu kondisi Indeks Dipole Mode (DMI) berada pada fase IOD negatif hingga November 2025. Serta anomali suhu muka laut yang hangat di perairan selatan DIY dengan suhu 28 hingga 30 derajat celcius.
Menurut Reni, pada beberapa bulan kedepan curah hujan di Yogyakarta juga akan mengalami peningkatan.
Misalnya di bulan Oktober dengan intensitas antara 151 mm hingga lebih dari 250 mm per bulan atau kriteria menengah – tinggi.
Kemudian untuk bulan November curah hujan meningkat drastis. Sebab dapat berkisar antara 201 mm hingga lebih dari 500 mm per bulan atau masuk kriteria menengah – sangat tinggi
“Sementara di bulan Desember curah hujan diprediksi kembali ke sifat normal berkisar antara 201 – 500 mm per bulan,” jelasnya.
Selama meningkatnya curah hujan, Reni meminta agar masyarakat dan pemerintah daerah mulai waspada terhadap potensi cuaca ekstrem.
Sebab ada kemungkinan hujan lebat disertai petir, angin kencang, puting beliung, hingga hujan es.
Tindakan mitigasi pun perlu dilakukan, misalnya dengan memastikan kekuatan baliho dan bangunan.
Lalu memantau fungsi saluran air agar tidak terjadi banjir. Serta menyesuaikan pola tanam agar tidak terjadi gagal panen.
“Khusus wilayah rawan banjir dan tanah longsor diminta meningkatkan kewaspadaan saat puncak musim hujan,” imbuh Reni.
Baca Juga: Pemprov DIY Akan Menertibkan Becak Motor di Malioboro, Begini Tanggapan Paguyuban Tukang Becak
Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Nur Hidayat menyampaikan, hingga November pihaknya akan siaga bencana hidrometeorologi. Kebijakan tersebut diambil sebagai bentuk antisipasi tingginya curah hujan.
Nur menyatakan, dari sisi kesiapan BPBD Kota Jogja telah memiliki 26 Early Warning System (EWS) banjir. Kehadiran alat tersebut akan memberi peringatan kepada masyarakat jika terjadi luapan sungai.
“Potensi banjir memang diwaspadai, khususnya di daerah aliran sungai,” beber Nur. (inu)
Editor : Winda Atika Ira Puspita