Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tiga Jenis Gangguan Mental  Banyak Dialami Anak-Anak  di DIY, Salah Satunya karena Dampak Kecanduan HP  

Agung Dwi Prakoso • Jumat, 10 Oktober 2025 | 04:34 WIB

SISI LAIN TEKNOLOGI: Seminar nasional bertajuk Sehat Mental di Era Digital yang diselenggarakan PKMK FKKMK UGM bersama pihak terkait lain  di Auditorium FK-KMK UGM.
SISI LAIN TEKNOLOGI: Seminar nasional bertajuk Sehat Mental di Era Digital yang diselenggarakan PKMK FKKMK UGM bersama pihak terkait lain  di Auditorium FK-KMK UGM.
SLEMAN - Tiga jenis gangguan mental yang banyak ditemukan di Indonesia, termasuk di DIY, yakni depresi, kecemasan dan skizofrenia.

Salah satu penyebabnya karena derasnya arus informasi dan efek dari digitalisasi yang kurang ramah terhadap anak.

Masalah ini dibahas dalam seminar nasional bertajuk "Sehat Mental di Era Digital"  yang diselenggarakan Pusat Kebijakan Manajemen Masyarakat (PKMK) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM bersama pihak terkait lainnya di Auditorium FK-KMK UGM, Kamis (9/10/2025).

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan Imran Pambudi mengatakan, hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, sebanyak 20 persen masyarakat Indonesia teridentifikasi terserang depresi.

Dari data tersebut, kurang dari 13 persen yang mau mengakses layanan kesehatan.

"Ini merupakan masalah juga yang harus kita dorong bersama, agar masyarakat mau untuk mengakses layanan kesehatan supaya sembuh," ujarnya saat ditemui pasca seminar.

Ia juga memaparkan data kasus bunuh diri secara nasional yang mengalami peningkatan di tahun 2024. Pada 2023, kasus bunuh diri di Indonesia mencapai 1.350 per tahun, kemudian 2024 meningkat menjadi 1.450 kasus. "Itu baru kasus yang dilaporkan," tandasnya.

Dari berbagai macam jenis gangguan jiwa, paling banyak ditemukan adalah depresi, kecemasan dan skizofrenia.

Tiga kasus gangguan jiwa ini paling banyak ditemukan baik di Indonesia maupun di DIY. "Ada sekitar 1.750 kasus penderita skizofrenia yang ditangani dengan dipasung di Indonesia," katanya.

Salah satu penyebab gangguan mental itu, di antaranya terkait penggunaan smartphone oleh anak-anak yang meningkat tajam.

Data tahun 2023, anak usia 7-17 tahun yang menggunakan HP sebanyak 81 persen di Indonesia.

Dari data itu, 75 persen mereka telah mengakses internet. "Anak golongan post Gen Z hampir 50 persen mengakses internet, tingkat terpaparnya di Indonesia terhadap internet tinggi," ucapnya.

Baca Juga: Ajak Warga Pesisir untuk Jaga Kambtimas, Bhabinkamtibmas Karangwuni Polsek Wates Sambang Tegalan Wilayahnya

Artinya, anak di Indonesia cenderung tidak kekurangan informasi. Namun sebaliknya, mereka malah kelebihan informasi dan harus disaring serta dipilah.

Ketua Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPKI) DIY Rifqoh Idayati menyampaikan pengalamannya menangani ODGP (orang dengan Gangguan Psikologi) di daerah Bantul. Kebanyakan mereka mengalami depresi, kecemasan dan skizofrenia.

"Itu terjadi 6-8 bulan terakhir berbarengan dengan maraknya judi online dan pinjaman online," ujarnya.

Walaupun ia belum bisa menyampaikan data secara pasti, cukup banyak orang yang ia tangani. Kebanyakan pasien mengeluhkan sulit tidur, makan hingga muncul halusinasi.

Setelah dilakukan asessmen beberapa faktor penyebabnya adalah kecanduan internet, media sosial, judol dan pinjol.

"Fakta di lapangan begitu. Mencakup seluruh usia, bukan hanya orang dewasa. Kami temukan anak SD terlibat pinjol, karena informasi sekarang saking mudahnya," jelasnya. (oso/laz)

 

 

Editor : Herpri Kartun
#Sehat Mental di Era Digital #Ikatan Psikolog Klinis Indonesia #PKMK #kecemasan #gangguan mental #Pusat Kebijakan Manajemen Masyarakat #survei kesehatan indonesia #ski #depresi #internet #FKKMK UGM #IPKI #kasus bunuh diri #anak #fakultas kedokteran #DIY #kecanduan hp pada anak #ODGP #FKKMK #orang dengan Gangguan Psikologi #skizofrenia