JOGJA – Penerapan Malioboro sebagai kawasan full pedestrian masih menyisakan sejumlah catatan.
Kebijakan bebas kendaraan itu belum sepenuhnya efektif, terutama pada siang hari ketika kawasan menjadi sepi pengunjung akibat cuaca panas.
Wakil Wali Kota Jogja Wawan Harmawan membenarkan hal tersebut. Aktivitas masyarakat dan wisatawan di Malioboro justru meningkat pada sore hingga malam hari.
“Kalau siang memang cenderung panas, tapi begitu masuk sore, masyarakat sangat fun dan happy sekali,” ujarnya saat ditemui di Kantor DPRD Kota Jogja, Kamis (9/10/2025).
Meski secara umum disambut positif wisatawan, Wawan mengakui banyak pelaku usaha yang mengeluhkan dampak kebijakan tersebut.
Karena itu, Pemkot Jogja akan melakukan evaluasi menyeluruh untuk memastikan penerapan full pedestrian tidak merugikan sejumlah pihak dan bisa dirasakan manfaatnya.
“Kami akan cari formulasi terbaik agar manfaatnya bisa dirasakan semua pihak,” jelasnya.
Salah satu opsi yang tengah dikaji adalah penerapan sistem berkala. Misalnya, kebijakan bebas kendaraan diberlakukan satu bulan sekali atau hanya saat musim liburan panjang.
Upaya tersebut, kata dia, untuk mencari formula yang tepat jika kawasan Malioboro benar-benar ditetapkan kawasan pedestrian sepenuhnya. Termasuk melihat dampak kepadatan lalu lintas dari penutupan Jalan Malioboro.
“Jadi tetap kami evaluasi apa yang kurang dan bagaimana solusinya,” beber Wawan.
Sebagaimana diketahui, penerapan kawasan Malioboro full pedestrian dilakukan bertepatan dengan HUT ke-269 Kota Jogja pada 7 Oktober lalu. Terhitung dari pukul 00.00 hingga 24.00.
Kebijakan itu mengundang pro dan kontra dari wisatawan serta pelaku usaha. Yessy Setia Lisnawati, wisatawan asal Bandung mengaku senang bisa merasakan Malioboro dengan suasana berbeda. Lantaran destinasi wisata favorit di Jogjakarta itu kondisinya lebih bersih dan tenang.
Namun dari sisi pelaku usaha kondisi Malioboro sebagai kawasan full pedestrian dirasa belum menguntungkan.
Contohnya seorang kusir andong bernama Wasto Sukresno yang mengeluh tidak ada peningkatan penumpang.
Wasto menyebut, selama penerapan bebas kendaraan itu, dirinya hanya mengangkut tiga penumpang. Jumlah itu sama seperti hari-hari biasa jika tidak diterapkan bebas kendaraan.
“Mungkin wisatawan yang dari parkiran menuju Malioboro-nya disuruh pakai andong atau becak, nah itu mungkin bagus,”harapnya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita