RADARJOGJA – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X menghadiri audiensi Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) bersama Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, di Gedung Djuanda, Kementerian Keuangan RI, Jakarta Pusat, pada Selasa (7/10).
Dalam pertemuan tersebut, turut mendampingi Sri Sultan, Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset (BPKA) DIY, Wiyos Santoso.
Ia menyampaikan bahwa dana transfer ke daerah untuk tahun anggaran 2026, termasuk bagi DIY, dipastikan mengalami penurunan.
“Dana transfer itu jenisnya macam-macam, ada Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik, DAK nonfisik, dan lain sebagainya. Nah, secara keseluruhan, dana transfer dari pusat untuk DIY tahun 2026 nanti berkurang sekitar Rp167 miliar. Dengan pengurangan ini, otomatis APBD DIY 2026 turun,” ungkap Wiyos.
Audiensi para gubernur anggota APPSI dan Menteri Keuangan RI tersebut tidak hanya membahas Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD), tetapi juga sejumlah isu strategis lainnya.
Di antaranya sinkronisasi kebijakan, optimalisasi alokasi anggaran, serta berbagai tantangan dan solusi dalam pelaksanaannya di tingkat daerah.
Lebih lanjut, Wiyos menjelaskan bahwa penurunan APBD DIY tahun 2026 akibat berkurangnya dana transfer dari pusat membuat Pemda DIY perlu melakukan efisiensi belanja.
Dalam Rancangan APBD DIY Tahun 2026 yang telah disusun, besaran dana transfer masih mengacu pada jumlah yang sama seperti alokasi tahun 2025 dari pemerintah pusat.
Ia juga menegaskan bahwa penurunan dana transfer ini tidak hanya dialami oleh DIY, tetapi juga terjadi di seluruh daerah di Indonesia, termasuk di tingkat kabupaten dan kota.
“Meski ada penurunan APBD, kami akan tetap berupaya memenuhi mandatory spending dan melakukan pemilahan untuk menentukan prioritas. Misalnya, untuk pendidikan tetap akan diupayakan mencapai 20 persen dari total APBD. Sedangkan untuk pembangunan infrastruktur, proyek yang bersifat prioritas tetap harus berjalan, meskipun panjang jalan, volume pekerjaan, atau skala proyek mungkin akan terdampak. Prinsipnya, manfaatnya tetap ada untuk masyarakat,” jelas Wiyos.
Penulis: Ni Made Shinta Apriliayani