Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

HUT ke-269 Kota Jogja, Pengamat Ingatkan Jangan Biarkan Keistimewaan Terkikis Kemacetan dan Kepadatan

Iwan Nurwanto • Selasa, 7 Oktober 2025 | 15:05 WIB
Wisatawan melintas di kawasan Titik Nol Kilometer menuju Malioboro, Kota Jogja, Kamis (2/10/2025).
Wisatawan melintas di kawasan Titik Nol Kilometer menuju Malioboro, Kota Jogja, Kamis (2/10/2025).

Peringatan HUT ke-269 Kota Jogja seharusnya tidak hanya menjadi seremoni penuh euphoria. Tapi juga momentum refleksi mendalam terhadap berbagai tantangan nyata yang dihadapi kota ini. Salah satu masukan datang dari Pengamat Tata Kota Universitas Gadjah Mada (UGM), Ikaputra, yang menyoroti dua isu krusial: lonjakan populasi dan kemacetan.


Menurut Ikaputra, dua persoalan tersebut tidak bisa lagi diabaikan. Daya tarik Jogja sebagai pusat pendidikan, budaya, dan pariwisata memang membawa banyak keuntungan, namun sekaligus menjadi magnet urbanisasi yang berdampak langsung pada kualitas hidup kota.


“Kondisi kota yang makin padat, lahan yang makin mahal, dan ruas jalan yang jenuh oleh kendaraan pribadi adalah indikasi nyata bahwa kita sedang menghadapi tekanan urban yang serius,” ujar Ikaputra, Minggu (5/10).


Masalah bertambah pelik ketika pertumbuhan jumlah penduduk juga diikuti oleh lonjakan kepemilikan kendaraan pribadi, baik roda dua maupun empat. Hal ini memperparah kemacetan, terutama di pusat kota, dan mengancam kenyamanan khas Jogja yang selama ini menjadi daya tariknya.


Ikaputra berharap Pemkot Jogja tidak menunda-nunda upaya penanganan yang terukur dan berani. Salah satu solusi strategis yang disarankan adalah penguatan sistem transportasi publik, khususnya TransJogja.


Bukan sekadar menambah armada, tapi juga memperluas jangkauan ke kawasan penyangga, meningkatkan frekuensi layanan, dan memastikan integrasi moda transportasi berjalan optimal.“Transportasi publik harus menjadi pilihan yang nyaman, terjangkau, dan terintegrasi, bukan sekadar alternatif,” tegasnya.


Selain itu, pengendalian ketat terhadap bus pariwisata yang masuk ke pusat kota juga dinilai penting. Dengan kondisi infrastruktur jalan yang sempit, keberadaan kendaraan besar seperti bus justru memperparah kepadatan. Ikaputra menyarankan adanya zona larangan bus di area tertentu dan penyediaan terminal penyangga di pinggiran kota.


Dari sisi penataan ruang, Ikaputra juga mendorong Pemkot untuk lebih berani dan visioner. Fasilitas transportasi umum sebaiknya dibangun terintegrasi dengan kawasan pendidikan, perkantoran, dan pusat kegiatan warga. Dengan begitu, masyarakat punya insentif kuat untuk beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi masal.


“Kalau ini tidak segera ditangani secara menyeluruh, wajah Jogja yang damai dan nyaman akan perlahan hilang, tergantikan oleh kekacauan urban,” tuturnya.


Momentum ulang tahun kota ini, menurut Ikaputra, seharusnya menjadi titik balik bagi Pemkot Jogja untuk melakukan langkah-langkah transformatif. Keistimewaan Jogja bukan hanya soal sejarah, tetapi juga soal keberanian pemerintah dalam menjaga kualitas hidup warganya di tengah dinamika zaman.(inu/pra)

Editor : Heru Pratomo
#UGM #Kepadatan #kemacetan #transjogja #urbanisasi #tata kota #ikaputra #Keistimewaan #HUT kota Jogja #Wisatawan