JOGJA - Okupansi hotel di DIY mengalami peningkatan di akhir pekan di awal Oktober. Salah satu hal yang memicu peningkatan tersebut adalah beberapa event yang digelar di Jogja.
"Banyaknya event besar seperti Malioboro Run, Kustomfest di JEC mendongkrak okupansi hotel secara tidak langsung," ujar Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Deddy Pranowo Eryono saat dihubungi melalui sambungan telepon Minggu (5/10).
Namun, persebaran wisatawan masih belum merata. Itu terlihat dari tingginya okupansi hotel didominasi di wilayah tengah, Malioboro dan sekitarnya yang merupakan jantung kota.
"Di wilayah tengah, rata-rata bisa 60-85 persen," bebernya.
Kemudian untuk hotel yang berada di luar Kota Jogja seperti Kabupaten Sleman, Gunungkidul dan lainnya, masih banyak yang di bawah 50 persen. Namun, beberapa hotel juga ada yang bisa lebih dari 50 persen.
"Rata-rata 30-55 persen, tertingginya 55 persen itu," lontarnya.
Jika dibandingkan dengan akhir pekan di awal bulan sebelumnya, angka tersebut termasuk mengalami peningkatan. Peningkatan itu juga tidak begitu signifikan, hanya berkisar 5-10 persen saja.
"Patut disyukuri, awal bulan sebelumnya di akhir pekan okupansinya secara rata-rata di kota hanya 50 persen, di kabupaten sekitar 25-30 persen," jelasnya.
Tren tamu yang menginap di DIY mayoritas adalah keluarga. Mereka berasal dari DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah dan beberapa dari luar Jawa. Wisatawan asal Kalimantan, Sumatra, Lampung dan Bali juga cukup banyak ditemui.
"Kalau asing kebanyakan dari Malaysia, Singapura, Eropa, dan Cina," ucapnya.
Ia mengakui, bahwa event yang diselenggarakandi DIY cukup signifikan untuk mendongkrak okupansi dan kunjungan wisata di DIY. Menurutnya itu dapat menjadi acuan Pemprov DIY untuk meningkatkan lagi pengadaan event besar.
"Semakin banyak semakin bagus, ekonomi otomatis cepat berputar," ujarnya. (oso)
Editor : Sevtia Eka Novarita