Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

WJNC Gagal Digelar Kunjungan Hotel Melesu, PHRI DIY Genjot Okupansi Menjelang Tutup Tahun

Fahmi Fahriza • Sabtu, 4 Oktober 2025 | 19:35 WIB
Para wisatawan di kawasan Malioboro, Yogyakarta. 
Para wisatawan di kawasan Malioboro, Yogyakarta. 

JOGJA - Industri perhotelan di DIY sempat mengalami kelesuan rentang Agustus -September 2025.

Dari catatan PHRI DIY, okupansi hotel hanya berkisar di angka 45 persen.

Artinya, jauh dari target ideal 70 persen.

Kondisi ini menjadi perhatian serius Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI).

Promosi terus digenjot termasuk mendorong penyelenggaraan event untuk mendongkrak keterisian kamar hingga akhir tahun.

Ketua PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono mengungkapkan, pada bulan kemerdekaan hingga September itu, okupansi menurun dari target ideal, salah satunya disebabkan faktor gagalnya penyelenggaraan event besar, Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) 2025.

Event tersebut dibatalkan lantaran efiensi anggaran yang diinstruksikan pemerintah pusat.

"WJNC sudah jadi kalender event nasional, sangat disayangkan ditiadakan tahun ini. Dampaknya sangat terasa bagi Jogja, baik untuk hotel, restoran, UMKM, maupun penerimaan PAD. Sangat disayangkan," ujar Deddy kepada Radar Jogja, Sabtu (4/10/2025).

Menurutnya, WJNC selama ini mampu meningkatkan okupansi hotel secara signifikan, dari rata-rata 45 persen bisa melesat hingga 60-80 persen.

Bahkan, length of stay (los) wisatawan juga bertambah, dari biasanya 1-2 hari menjadi 3 hari saat ada WJNC.

"Tidak hanya wisatawan domestik, turis mancanegara seperti dari Malaysia, Singapura, hingga Eropa juga kerap hadir khusus untuk menyaksikan gelaran itu," lontarnya.

Namun, pembatalan WJNC membuat sebagian wisatawan menunda kunjungan ke Jogja.

Sehingga untuk menutup sisa tahun, ia menyarankan pemerintah harus segera mencari atau memperbanyak subtitusi agenda.

"Efek domino-nya luas. Kalau ada event besar, hotel penuh, restoran ramai, transportasi hidup, dan UMKM juga menggeliat," imbuh Deddy.

Meski demikian, Deddy mengaku bisa cukup bernafas lega di awal Oktober ini, karena sedikit tertolong dengan adanya event Malioboro Run 2025 yang berlangsung Minggu (5/10/2025).

Lomba lari internasional yang digagas Bank BPD DIY itu menjadi daya tarik baru, bahkan berhasil menarik 7.000 peserta, di mana 73 persen di antaranya berasal dari luar DIY.

Direktur Pemasaran dan Usaha Syariah Bank BPD DIY Raden Agus Trimurjanto mengungkapkan, bahwa dampak ekonomi dari Malioboro Run tersebut sangat besar.

"Perkiraan sekitar 15 ribu orang masuk ke Jogja akhir pekan ini. Hotel-hotel hampir semua penuh. Perputaran uang untuk dua hari bisa mencapai Rp30 miliar, belum termasuk kuliner dan belanja oleh-oleh," jelasnya.

Deddy memaparkan, sejauh ini dari data PHRI menunjukkan, selama akhir pekan ini dengan adanya Malioboro Run, tingkat reservasi hotel memang meningkat lebih dari dua kali lipat.

Jika biasanya hanya 20 persen di akhir pekan tanpa event, kini mencapai 40 persen lebih, bahkan banyak tamu datang langsung tanpa reservasi online.

"Fenomena ini tidak hanya dirasakan hotel berbintang, tetapi juga penginapan nonbintang dan homestay di kawasan Kota Jogja," ungkap Deddy.

Selain itu, event seperti Malioboro Run terbukti memberi efek ganda bagi ekonomi. Transportasi, kuliner lokal, hingga pedagang UMKM di sekitar lokasi acara ikut terdongkrak.

Menurutnya, ini contoh nyata bagaimana event bisa menggerakkan perekonomian daerah.

Melihat dampak positif itu, Deddy mewakili PHRI DIY mendorong agar agenda wisata berbasis event terus digalakkan.

Setelah Malioboro Run, awal November mendatang akan digelar Hotel and Restaurant (H&R) Run.

Meski tidak dipungut biaya, peserta diminta membeli makanan di resto atau menginap di hotel peserta kegiatan, sebagai strategi untuk menarik wisatawan dan menggerakkan sektor kuliner juga perhotelan.

"Awal Oktober ini okupansi hampir 50 persen. Semoga November-Desember bisa lebih tinggi. Target kita sampai akhir tahun okupansi bisa 90 persen, terutama saat libur Natal dan Tahun Baru," terang Deddy. (iza)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Wayang Jogja Night Carnival #Kota Jogja #tutup tahun #phri diy #WJNC #kunjungan hotel #Bank BPD DIY #WJNC Gagal Digelar #okupansi