JOGJA - Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Jogja menyoroti minimnya keaktifan sekolah dasar untuk membentuk peleton inti (tonti). Padahal kegiatan baris-berbaris tersebut berfungsi untuk menanamkan nilai-nilai kedisiplinan.
“Dari sejumlah 167 SD negeri dan swasta di Kota Jogja kepesertaannya hanya 10 persen setiap lomba baris-berbaris,” ujar Ketua Tim Kerja Pembinaan Kepemudaan Disdikpora Kota Jogja Mugi Suyatno di Balai Kota Jogja Selasa (23/9).
Mugi menyebut, ada berbagai faktor yang membuat sekolah enggan untuk membentuk tonti. Salah satunya karena jumlah siswa yang minim.
Menurutnya, kondisi itu ditemukan saat kegiatan anjangsana lomba baris-berbaris tingkat kota tahun ini. Terkhusus pada sekolah-sekolah yang berada di pinggiran kota. “Ada beberapa sekolah yang jumlah satu kelas hanya berjumlah 10 atau 15 anak. Itu menjadi salah satu kendala,” beber Mugi.
Dijelaskannya, sesuai regulasi dalam perlombaan baris-berbaris satu tonti minimal harus memiliki 21 orang. Namun khusus untuk kategori siswa SD, diterapkan regulasi minimal sembilan orang untuk satu tonti.
Tahun ini, lanjutnya, Disdikpora Kota Jogja memang akan melaksanakan lomba baris-berbaris tingkat kota dengan kategori siswa SD dan SMP. Kegiatannya dilaksanakan pada 24-26 September 2025.
Mugi menilai, keaktifan sekolah dalam mengikuti lomba baris-berbaris dapat berdampak pada meningkatnya prestasi sekolah. Kemudian juga menanamkan nilai-nilai kedisiplinan bagi siswa.
Sementara itu, Ketua Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kota Jogja 2025-2029 Dea Putri Nur Azaria menambahkan, lomba baris-berbaris tingkat kota bisa menjadi tahap untuk maju ke tingkat nasional. Sehingga dia berharap agar para tonti aktif mengikuti perlombaan. “Untuk Kota Jogja pernah mewakili DIJ pada lomba tingkat nasional yang digelar MPR RI,” katanya. (inu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita