JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta meminta agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Sebab cuaca ekstrem mengintai hingga dia bulan ke depan.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, berdasarkan hasil pengamatan pihaknya angin di wilayah Indonesia bagian selatan ekuator bertiup dari timuran. Sehingga mengindikasikan monsun Australia masih aktif.
Reni menjelaskan, kondisi tersebut memengaruhi curah hujan di Yogyakarta hingga tiga bulan ke depan. Misalnya selama September, curah hujan masuk kategori rendah menengah. Kemudian di bulan Oktober dan November, masuk kategori menengah hingga sangat tinggi.
Menurutnya, September hingga Oktober merupakan periode yang perlu diwaspadai. Sebab di masa itu, terjadi peralihan musim dari kemarau menjadi penghujan atau pancaroba.
Baca Juga: Pemkab Sleman Komitmen Tambah Bonus Kepada Para Atlet Peraih Emas di Porda DIY 2025
Reni menyebut, selama masa pancaroba potensi bencana hidrometeorologi akan meningkat. Lantaran intensitas hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang akan terjadi lebih sering.
“Sehingga bagi masyarakat dan pemerintah untuk lebih siap dan antisipatif terhadap berbagai potensi bencana hidrometeorologi,” ujar Reni dalam keterangannya Selasa (16/9).
Nur menyatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan kampung tangguh bencana (KTB) untuk meningkatkan mitigasi. Yakni dengan mulai mengaktifkan sistem informasi kebencanaan berbasis warga dan menyiapkan titik kumpul darurat dan jalur evakuasi. “Kami juga telah meminta KTB agar segera melapor ke Pusdalop BPBD Kota Jogja jika terdapat kondisi darurat atau bencana,” jelasnya. (inu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita