Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pemerintah Gencar Kembangkan PLTP, Pengamat Energi Geothermal UGM Sebut Perlu Dukungan SDM dan Teknologi

Fahmi Fahriza • Sabtu, 13 September 2025 | 23:59 WIB

Peneliti sekaligus pakar energi Geothermal dari Teknik Geologi UGM Pri Utami
Peneliti sekaligus pakar energi Geothermal dari Teknik Geologi UGM Pri Utami


JOGJA - Pemerintah saat ini terus memaksimalkan potensi energi panas bumi dengan menambah kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) di berbagai daerah. Meski langkah ini dinilai bermanfaat, pengembangan energi panas bumi tetap menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait sumber daya manusia (SDM) dan penguasaan teknologi.


Peneliti sekaligus pakar energi geothermal dari Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Pri Utami menjelaskan, pengembangan energi panas bumi di Indonesia hingga kini masih terfokus di area gunung api berumur kuarter. Khususnya pada sistem hidrotermal bertemperatur tinggi. 


Menurutnya, tingkat keberhasilan menemukan sumber panas bumi sebelum pemboran hanya sekitar 50 persen, sementara biaya pengeboran per sumur mencapai USD 10 juta. Kondisi ini membuat investasi di tahap eksplorasi memiliki risiko tinggi.


"Untuk menurunkan risiko itu perlu investasi penelitian geosains. Meliputi geologi, geokimia, dan geofisika, agar kondisi bawah permukaan bisa diperkirakan lebih detail," ujarnya, Sabtu (13/9).


Ia menuturkan, teknologi pemboran juga harus ditingkatkan agar lebih cepat mencapai target kedalaman. Energi panas bumi sebenarnya dapat diekstraksi di hampir semua tempat, sebab potensi tersebar merata di Bumi. 


Namun pemanfaatan sistem hidrotermal bertemperatur tinggi tetap mensyaratkan adanya fluida panas dengan temperatur 225–300°C, komposisi kimia bersahabat, batuan permeabel, serta kedalaman 1–3 km.


Meski berbiaya besar, pengembangan PLTP, menurut Pri, membawa manfaat langsung bagi masyarakat, salah satunya membuka lapangan kerja. 


"Dari eksplorasi hingga pengembangan lapangan, proyek ini butuh banyak tenaga kerja lokal dan membuka peluang usaha pendukung seperti katering, akomodasi, transport, hingga jasa lainnya," jelasnya.


Selain itu, beberapa lapangan panas bumi juga menghasilkan produk samping berupa endapan mineral yang bisa dimanfaatkan sebagai penyubur dan penguat tanaman. 


"Dengan demikian peningkatan pasokan energi listrik lewat panas bumi juga berkontribusi pada ketahanan pangan," tambahnya.


Namun demikian, Pri mengingatkan adanya risiko lingkungan dari pengembangan energi panas bumi. Misal debu saat mobilisasi alat berat, kebisingan pemboran, hingga perubahan lanskap akibat pembangunan instalasi. 


Meski begitu, dampak tersebut bisa diminimalisasi dengan sejumlah langkah, seperti pembersihan area terdampak, pemasangan peredam suara, penggunaan mesin pemboran modern, serta penanaman kembali area terbuka.


Pada aspek sosial, ia menilai edukasi tentang energi panas bumi masih minim di masyarakat. Ditekankan perlunya kebijakan yang menempatkan panas bumi bukan sebagai komoditas layaknya migas atau batu bara, melainkan aset energi yang kompetitif dibandingkan energi fosil.


"Supaya lebih kompetitif, investasi SDM sangat penting untuk menekan biaya eksplorasi sekaligus meningkatkan kehandalan teknologi pemanfaatannya," tegasnya. (iza/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
#Universitas Gadjah Mada (UGM) #teknik geologi #pltp #SDM #Panas Bumi #Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi