JOGJA - Kemampuan Pemkot Jogja mengurangi penumpukan sampah semakin terbatas. Pasalnya, kuota pembuangan sampah ke TPST Piyungan terus menipis.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan, dari periode Januari hingga Juli Kota Jogja sudah membuang 23 ribu ton sampah ke Piyungan. Sementara sisa hingga akhir tahun mendatang tinggal 2.400 ton atau sekitar 600 ton per bulan.
Hasto menyebut, sisa kuota pembuangan yang semakin menipis harus disikapi serius. Lantaran di tahun 2026 mendatang Piyungan berpotensi tidak lagi menerima pembuangan sampah dari Kota Jogja.
Mantan Bupati Kulonprogo dua periode itu mengungkapkan, produksi sampah harian di Kota Jogja mencapai 260 ton. Sementara yang baru bisa terolah di unit pengolahan sampah (UPS) milik pemerintah baru sekitar 190 ton. Sehingga masih ada timbulan 70 ton sampah yang belum dapat terolah.
Dia mengaku, upaya untuk mengurangi timbulan sampah kini tengah dilakukan melalui Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas Jos). Program itu akan digencarkan lewat sosialisasi hingga tingkat kampung. Sehingga harapannya bisa membentuk pola pikir masyarakat untuk mau mengolah sampah.
“Gerakan masif ini (Mas Jos) untuk menggembosi sampah ke depo, agar yang ke depo tidak banyak,” ujar Hasto di sela kegiatan Mas Jos Menyapa Kampung Pengok (9/9).
Hasto pun memastikan akan terus memantau gerakan Mas Jos agar berjalan optimal di 14 kemantren dan 45 kelurahan. Pada tiap kampung nantinya juga akan diberi bantuan gerobak dan ember bekas. Fungsi ember mengolah sampah organik yang berasal dari limbah sisa dapur sebagai pakan ternak.
Selain itu, pada tiap kelurahan dan kemantren yang menjalankan program Mas Jos juga akan dinilai. Bagi wilayah terbaik dalam penanganan dan pengolahan sampahnya akan diumumkan pada HUT Kota Jogja di tanggal 7 Oktober 2025.
“Lewat Mas Jos, harapannya pada Januari nanti bisa menyelesaikan sampah real time,” ungkap Hasto.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja Rajwan Taufiq mengungkapkan, kuota pembuangan sampah ke Piyungan yang terbatas berdampak pada menumpuknya depo. Sampai saat ini masih ada 2.000 ton sampah yang masih tertahan di 14 depo.
Rajwan mengaku, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Pemprov DIJ untuk menambah kuota pembuangan ke Piyungan. Serta terus berupaya mengurangi produksi sampah langsung dari sumbernya. “Program Mas Jos harus digencarkan untuk meminimalisasi pembuangan ke depo,” bebernya. (inu/laz)
Editor : Herpri Kartun