Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Puncak Gebyar Keistimewaan 13 Tahun UUK DIY di Alun-Alun Wonosari, Gunungkidul, Junjung Tepo Seliro, Empan Papan, dan Dialog

Yusuf Bastiar • Senin, 1 September 2025 | 12:30 WIB
KEBERSAMAAN: Seluruh jajaran Pemprov DIY dan OPD Pemkab Gunungkidul saat doa lintas agama untuk keselamatan dan kedamaian Indonesia pada malam puncak Gebyar Keistimewaan.
KEBERSAMAAN: Seluruh jajaran Pemprov DIY dan OPD Pemkab Gunungkidul saat doa lintas agama untuk keselamatan dan kedamaian Indonesia pada malam puncak Gebyar Keistimewaan.

GELARAN Gebyar Keistimewaan 2025 di Alun-Alun Wonosari, Gunungkidul, menjadi ruang perayaan sekaligus pengingat bahwa keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tidak hanya tertulis dalam undang-undang, tetapi hadir nyata dalam kehidupan sosial masyarakat.

Mewakili Gubernur DIY Hamengku Buwono X, Plt Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat
Setda DIY Aris Eko Nugroho menegaskan, masyarakat Yogyakarta masih menjunjung tinggi nilai tepo seliro, empan papan, dan semangat musyawarah dalam keseharian melalui dialog.

”Keistimewaan DIY hakikatnya adalah tentang bagaimana kita menjaga warisan leluhur sambil memastikan relevansinya dengan zaman. Dengan tepo roso, empan papan, dan dialog, masyarakat mampu menjaga harmoni, keseimbangan, serta rasa kebersamaan,” ujar Aris saat membacakan sambutan gubernur pada Minggu (31/8) malam.

Menurutnya, nilai-nilai itu menjadi penyangga penting di tengah dinamika sosial di tingkat nasional yang seringkali penuh gesekan. Yogyakarta, kata HB X, diharapkan terus menjadi ruang teduh di mana aspirasi disampaikan lewat jalan dialog dan musyawarah, bukan konflik. Hal ini selaras dengan tema yang diusung dalam peringatan ke-13 tahun pengesahan Undang-Undang Keistimewaan DIY yakni “Mupakara Gunita Prasanti Loka”.

Tema ini sarat makna. HB X menyebut Mupakara sebagai bentuk penghormatan, Gunita sebagai kesadaran asal-usul dan jati diri, sementara Prasanti Loka menggambarkan Yogyakarta sebagai tempat yang meneduhkan dan memberdayakan masyarakat. Aris menjelaskan, peringatan bukan semata-mata pengulangan ritual tahunan, melainkan momentum untuk menghidupkan kembali makna sekaligus meneguhkan langkah ke depan.

”Keistimewaan bukan milik satu golongan. Melainkan milik bersama seluruh warga Yogyakarta, apa pun peran dan posisi mereka,” tegasnya.

Di tengah situasi nasional yang dinamis, Pemprov DIY menyerukan pentingnya menjaga sikap tenang, bijak, dan saling menghormati. HB X mengajak seluruh masyarakat untuk tetap menjadikan dialog sebagai cara utama dalam menyampaikan aspirasi.

”Menjaga ketenteraman Yogyakarta adalah tanggung jawab kita bersama. Mari kita rawat ruang-ruang dialog, memelihara harmoni, dan mengaktualisasikan nilai-nilai budaya dalam kehidup-an sosial sehari-hari,” ujar Aris menyampaikan pesan gubernur.

Puncak acara ditutup dengan doa bersama sebagai simbol bahwa keistimewaan bukan hanya soal budaya dan tata kelola, tetapi juga spiritualitas kebersamaan. Gubernur HB X melalui perwakilannya berharap, Gebyar Keistimewaan menjadi momentum penguatan komitmen seluruh lapisan masyarakat DIY untuk terus merawat keistimewaan dalam keseharian.

”Dengan cara itulah keistimewaan dapat terus hidup. Bukan hanya sebagai warisan legal formal, tetapi sebagai laku keseharian masyarakat,” tandas Aris.

Gebyar Keistimewaan 2025 kali ini menggambarkan denyut kehidupan istimewa DIY. Dari Sleman, Bantul, Kulon Progo, Gunungkidul hingga Kota Yogya berbagai ekspresi budaya hadir dalam panggung seni. Sementara itu puluhan pelaku UMKM lokal meramaikan bazar, memamerkan produk kreatif khas daerah, sekaligus menunjukkan peran ekonomi rakyat dalam menjaga daya hidup keistimewaan.

Pameran hasil capaian keistimewaan juga digelar, menampilkan perjalanan dan capaian DIY dalam bidang kebudayaan, tata kelola pemerintahan, serta pembangunan yang berakar pada nilai lokal. Acara yang berlangsung selama dua hari, 30-31 Agustus 2025 ini menjadi titik kumpul ribuan warga dari seluruh penjuru DIY yang memadati Alun-Alun Wonosari, bergabung dalam suasana guyub penuh kebersamaan. (bas/laz)

Editor : Herpri Kartun
#hamengku buwono #Pemprov DIY #HB X #Yogyakarta #wonosari #Budaya #Gunungkidul #Gebyar #Keistimewaan #gubernur diy #Spiritualitas