JOGJA - Garin Nugroho Riyanto mencoba kembali menggeliatkan ekspresi seni yang jarang dilirik orang banyak atau kadang dianggap marjinal.
Upayanya, dilakukan dengan menyediakan wadah bernama Omah Jayeng.
Adapun Omah Jayeng merupakan rumah masa kecil Garin.
Rumah yang beralamat di Jl. Jayeng Prawiran No.18, Purwokinanti, Pakualaman, Kota Jogja itu juga tempat lahirnya Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF).
Garin mengatakan, melalui Omah Jayeng dirinya ingin menyediakan ruang alternatif bagi pelaku seni.
Namun lebih kepada wadah bagi kegiatan seni dan budaya yang mungkin tidak diminati banyak orang.
“Omah jayeng mengambil sisi yang marginal, tempat kecil tapi efektif bagi mereka yang mungkin tidak diberi ruang di tempat lain,” ujar Garin saat ditemui dalam kegiatan bertajuk Menemukan Ruang Bersama, Selasa (12/8/2025) malam.
Menurutnya, gerakan di Omah Jayeng sudah mulai kembali menggeliat sejak enam bulan terakhir.
Namun tempat tersebut sejatinya sudah dibuka sebagai ruang publik sejak tahun 2009 lalu.
Beberapa kegiatan pun sudah dilaksanakan di Omah Jayeng.
Misalnya pameran Ruang, Ingatan dan Layar yang dibuka oleh fragmen "Ibu Pertiwi" dari penari Sekar Kinanti.
Kemudian pemutaran film karya Garin Nugroho dan empat sineas lokal dari Pacitan, Purworejo, Kediri dan Malang.
Kegiatan tersebut dihadiri 500 sineas dari berbagai daerah.
Selain itu, Omah Jayeng juga menjadi tempat pembuatan film berjudul Krisis.
Sebuah film dokumenter hasil kerjasama dengan Rumah Dokumenter klaten yang disutradarai oleh Toni Trimarsanto.
Kemudian, juga menjadi tempat produksi Buku Made In Indonesia karya Garin Nugroho.
Serta mewadahi berbagai workshop lintas komunitas dengan berbagai tema dari Yogyakarta maupun luar daerah.
“Omah Jayeng merupakan ruang publik alternatif terbuka bagi para penggerak dan penggiat seni budaya di Indonesia,” tandas Garin. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin