Salah satunya dari Pakar Komunikasi Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Fajar Junaedi yang mengatakan fenomena tersebut memiliki banyak elemen semiotika.
“One Piece adalah manga shonen yang berarti manga untuk remaja pria, sebenarnya telah lama beredar. Dalam konteks semiotika, bisa dilihat dengan memulai dari tema utamanya yakni kerja keras, kemenangan, dan persahabatan,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (4/8/2025).
Artinya karakter dirancang secara semiotik untuk mewakili nilai-nilai dan konflik sosial yang lebih luas. Merujuk penelitian dari Thomas Zoth (2011) yang berjudul The politics of One Piece: Political critique in Oda's Water Seven.
"Zoth menyebutkan bahwa alur Water Seven menggunakan karakter untuk mengeksplorasi relasi antara individu dan negara, khususnya dalam hal keamanan nasional.
Narasi tersebut menyiratkan bahwa mengorbankan hak individu demi peningkatan keamanan yang dirasakan tidak dapat diterima, dan memberikan perhatian pada sikap kritis terhadap isu-isu politik,”jelasnya.
Baca Juga: Perluas Jangkauan QRIS Tap, BI Luncurkan QRIS Tap Transportasi dan Kick Off Program Qris Jelajah Indonesia 2025
Atas dasar itu, Fajar menilai fenomena bendera One Piece digunakan sebagai aktivisme sosial. Hal itu juga bisa dimaknai sebagai simbol identitas kelompok, yang dalam konteks apa yang terjadi di Indonesia saat ini merupakan aktivisme sosial yang melakukan resistensi.
Kemudian pandangan dari seorang sosiolog, Alberto Melucci yang menyatakan bahwa gerakan sosial memerlukan adanya simbol yang menyatukan orang. Bendera berfungsi sebagai penanda identitas yang memberi individu kesempatan untuk merasa menjadi bagian aktivisme digital.
“Ini terlihat dengan warganet yang menggunakan bendera One Piece di status media sosial, profil media sosial, membagikan di media sosial, dan bahkan mendiskusikannya di media sosial," terangnya. (oso/zam)