JOGJA - Di Kota Jogja, Ketua Koperasi Merah Putih (KMP) Kelurahan Purwokinanti Widodo Yuwono mengatakan, tidak adanya modal menjadi kendala utama dalam pengoperasian KMP. Sehingga para pengurus pun terpaksa merogoh kocek pribadi untuk modal.
Adapun pengumpulan modal di KMP Purwokinanti (Pakualaman) menerapkan model patungan Rp. 100 ribu per anggota. Total anggota sampai saat ini berjumlah 25 orang. Sehingga modal yang terkumpul hanya Rp. 2,5 juta.
Baca Juga: Operasi Pencarian Korban KMP Tunu Pratama Jaya Tenggelam di Selat Bali Diperpanjang, 17 Orang Masih Hilang
Meskipun cupet, Yuwono optimistis KMP yang dipimpinnya bisa berjalan. Sebab saat ini sudah banyak pihak yang bersedia menjalin kerja sama. Misalnya Jogja Setia untuk suplai sembako, lalu perbankan, kemudian UMKM, dan apotek untuk bidang kesehatan.
Ya, KMP memang didorong fokus pada sektor riil. Sehingga harus menawarkan kebutuhan pokok masyarakat. Seperti sembako, logistik, dan pelayanan kesehatan.
Baca Juga: Peringati Hari Koperasi ke-78 dengan Jalan Sehat dan Selapan Pinggir Dalan, Diadakan Setiap 35 Hari, Promosikan Produk UMKM
“Untuk saat ini kami memang belum beroperasi, namun sudah menjajaki kerja sama,” ujar Yuwono saat ditemui di Kantor Sekretariat KMP Purwokinanti, Jumat (1/8).
Yuwono menarget KMP Purwokinanti bisa beroperasi pada pertengahan Agustus mendatang. Untuk saat ini pihaknya sedang menyiapkan instrumennya. Misalnya perbaikan bangunan sekretariat dan menyamakan visi misi anggota.
Seiring dengan itu, pihaknya juga akan terus menjaring keanggotaan koperasi. Sebab dengan lebih banyak anggota, tentu modal untuk menjalankan koperasi juga lebih besar.
Baca Juga: Pendapatan Olahan Salak Menurun, Pelaku UMKM di Sleman Berharap Keran Ekonomi Bisa Dibuka Lagi
Meskipun demikian, diakui, bukan hal mudah untuk menambah anggota KMP Purwokinanti. Pasalnya, ada sebagian warga yang ingin bergabung dalam keanggotaan hanya karena ingin mengajukan pinjaman.
Yuwono mengaku, di awal beroperasinya KMP Purwokinanti memang tidak membuka jasa simpan pinjam. Sebab koperasi Usaha Ekonomi Desa dan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) yang sebelumnya didirikan di kelurahannya, juga macet akibat jasa itu.
"Kendala koperasi itu pinjamannya macet, karena hanya pinjam saja namun simpanannya tidak ada," jelasnya. (inu/laz)