JOGJA - Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja kembali mengumbar janji membuat depo kembali bersih dari tumpukan sampah. Salah satu upayanya dilakukan dengan gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas JOS).
Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja Agus Tri Haryono mengatakan, Mas Jos merupakan sebuah gerakan untuk memaksimalkan pengelolaan sampah dari hulu. Terkhusus yang bersumber dari lingkungan rumah tangga.
Baca Juga: Salut! Pegawai Kelurahan Gunungketur Jogja Patungan Beri Jaminan Kerja kepada Penggerobak Sampah
”Kalau itu (Mas Jos, Red) berhasil, pelan-pelan depo akan menjadi tempat pemilahan lanjutannya, sekarang baru transisi,” ujar Agus saat di sela peluncuran Mas Jos Selasa (29/7).
Ada lima poin dalam program Mas Jos. Pertama, pemilahan sampah sesuai jenis. Kedua, mengolah sampah anorganik di bank sampah. Ketiga, mengolah sampah organik di rumah. Keempat, menghabiskan makanan. Terakhir, menggunakan wadah berulang kali pakai.
Kendati begitu, Tri menyadari untuk mewujudkan hal tersebut masih butuh waktu dan proses yang tidak sebentar.
Baca Juga: Pemkot Masih Ngarep Kantor Wali Kota Magelang Tak Pindah, Tawar Lagi Hibah Lahan TNI
Kepala badan perencanaan pembangunan daerah itu menyebut, Kemantren Pakualaman sebagai pilot project program Mas Jos. Dia mengklaim program ini mampu mengurangi produksi sampah dari 10 ton menjadi 2,5 ton per hari.
Karena itu, program ini kemudian diaplikasikan di seluruh kemantren. Selama program tersebut berjalan, tiap kelurahan akan dipantau penurunan produksi sampahnya.
“Ini seperti rapotnya tiap kelurahan,” jelasnya.
Baca Juga: Tanggapi Beban Biaya Sewa Wisma PSIM, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo: Bisa Dispensasi, Mosok Digusur
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menarget setiap kelurahan bisa mengurangi hingga 20 persen produksi sampah harian. Dia yakin, apabila program tersebut berjalan lancar maka permasalahan sampah di Kota Jogja selesai.
Bekas bupati Kulon Progo itu berjanji melakukan evaluasi rutin bulanan di tiap kelurahan. Agar program Mas Jos benar-benar bisa berjalan efektif.
“Kami ingin semua kelurahan berlomba-lomba menunjukkan hasil terbaiknya,” pesan Hasto.
Sementara itu, Lurah Gunungketur Sunarni menyampaikan, upaya pemilahan sampah sudah dilakukan. Caranya dengan menggandeng sepuluh penggerobak.
Penerapannya, kata Sunarni, transporter hanya menerima sampah organik dari masyarakat. Sampah anorganik harus dipisah dan dijual melalui bank sampah.
“Jadi masyarakat akan memilah sampah nya sendiri,” katanya. (inu/zam)