JOGJA - Jumlah kasus kematian akibat leptospirosis di Kota Jogja semakin meningkat.
Hingga bulan Juli 2025, Dinas Kesehatan (Dinkes) sudah mencatat ada 7 kasus meninggal dunia.
Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Kota Jogja Endang Sri Rahayu mengatakan, kasus meninggal dunia itu ditemukan enam kemantren.
Penambahan terbaru ada di Umbulharjo sebanyak satu kasus.
Sementara untuk enam kasus sisanya tersebar di Ngampilan sebanyak dua kasus, Wirobrajan satu kasus, Pakualaman satu kasus, Gedongtengen satu kasus, dan Jetis satu kasus.
Keenam kasus itu tercatat selama periode Januari-Juni 2025.
Selain jumlah kasus kematian yang meningkat, Endang menyebut, juga ada kenaikan jumlah kasus penularan.
Sampai bulan Juli ini tercatat ada 21 kasus atau naik dua kasus dibandingkan temuan hingga bulan Juni lalu.
“Untuk kasus memang mengalami kenaikan, per minggu kemarin 21 kasus,” ujar Endang saat dikonfirmasi lewat pesan singkat, Senin (28/7/2025).
Sementara itu, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengaku, akan segera melaksanakan rapat koordinasi bersama Dinkes terkait dengan meningkatnya kasus leptospirosis.
Termasuk melihat potensi ditariknya tuas Kejadian Luar Biasa (KLB) di Kota Jogja.
Hasto mengaku, optimistis sebaran leptospirosis bisa ditekan.
Pasalnya kondisi cuaca saat ini sedang memasuki musim kemarau.
Sehingga mudah untuk melakukan pencegahan lewat bersih-bersih lingkungan agar wilayah pemukiman tidak menjadi sarang tikus.
“Kalau musim hujan agak berat karena banyak yang becek-becek,” katanya.
Mantan Kepala BKKBN itu menyebut, leptospirosis biasanya banyak ditemukan pada wilayah pemukiman kumuh seperti bantaran sungai.
Namun pihaknya akan melakukan pemetaan agar sebaran kasus dapat dipastikan dan langkah pencegahannya tepat sasaran.
Dia pun memiliki rencana untuk lebih mempegencar sosialisasi terkait dengan penyakit yang ditularkan melalui kencing tikus itu.
Sebab diketahui, kasus kematian akibat leptospirosis banyak disebabkan karena masyarakat tidak mengetahui gejala awalnya.
“Kalau masalah obat sudah cukup, tinggal bagaimana mengenali tanda-tanda dininya,” kata Hasto saat ditemui di Balai Kota Jogja. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin