JOGJA - Rencana pemberlakuan Jalan Malioboro menjadi area pedestrian total, semakin dekat. Penataan komponen pendukung untuk memuluskan rencana itu juga telah bergulir. Pemkot Jogja dan Pemprov DIY terus mematangkan skemanya. Bagaimana tanggapan wisatawan, pelaku usaha di Malioboro, dan apa kata pengamat transportasi soal rencana ini?
Kendati sedang mematangkan rencana ini, Pemprov DIY belum menentukan waktu realisasi dari rencana ini. "Saat ini masih berproses untuk penentuan strategi dan langkah-langkahnya," ungkap Pj Sekprov DIY Aria Nugrahadi saat dikonfirmasi Jumat (4/7).
Diketahui, rencana pemberlakuan Jalan Malioboro sebagai area pedestrian penuh sebenarnya telah mencuat sejak beberapa tahun lalu, sekitar tahun 2018. Rencana itu merupakan salah satu program penataan pendukung status Jogja, khususnya sumbu filosofi sebagai warisan dunia.
"Memang merupakan program pendukung warisan dunia, sumbu filosofi UNESCO yang telah ditentukan tahapannya," tuturnya.
Uji coba semi pedestrian juga telah dilakukan sejak 2019 dengan mekanisme buka tutup jalan. Sampai saat ini pun masih diberlakukan semi pedestrian. Total lebih dari lima tahun uji coba itu dilakukan, namun rencana pedestrian penuh tak kunjung direalisasikan.
"Untuk pelaksanaannya, saat ini proses, koordinasi di dalam tim sumbu filosofi bersama dengan Pemkot Jogja dan stakeholder Malioboro," bebernya.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DIY Chrestina Erni Widyastuti mengakui hingga saat ini sedang mematangkan kesiapan semua pihak untuk merealisasikan rencana pedestrian total di Jalan Malioboro. Sementara skema yang diberlakukan masih sama seperti sebelumnya. "Sementara masih menggunakan skema yang saat ini berjalan," ujarnya.
Setiap hari Jalan Malioboro ditutup untuk kendaraan pribadi mulai pukul 18.00 hingga 21.00. Namun untuk becak motor, bus Transjogja dan andong masih diperbolehkan. Saat ditanyai mengenai target realisasi, pihaknya tidak menjawab pertanyaan itu.
Beberapa tahun belakangan, Pemprov DIY dan Pemkot Jogja telah merealisasikan kebijakan penataan sebagai pendukung rencana itu. Mulai dari relokasi pedagang Teras Malioboro 2, Tempat Parkir Khusus (TKP) Abu Bakar Ali yang keduanya sudah berjalan.
Selain itu, beberapa kantong parkir di luar Malioboro juga telah disiapkan. Bahkan gedung DPRD DIY yang berada di Jalan Malioboro saat ini dalam proses pemindahan menuju area baru Lapangan Kenari.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti memyampaikan, pemetaan menuju realisasi perencanaan pedestrian penuh di Malioboro didasarkan pada manajemen plan yang telah disepakati UNESCO.
Menurutnya, pemberlakukan semi pedestrian yang saat ini dilakukan berjalan dengan baik, sepanjang ada dukungan dari semua pihak dan sistem berjalan lancar. "Termasuk pengaturan di sirip-sirip Malioboro," ujarnya.
Ia juga menegaskan, realisasi pedestrian penuh di Malioboro harus memastikan manajemen traffic dan lalu lintas sudah siap. Pemprov telah menargetkan realisasi itu. Namun, senada dengan pejabat lainnya, penjelasan target realisasi tidak dijawab secara gamblang.
"Sebenarnya sudah ada target, tapi kan harus diperhatikan juga ketika full, semua sistem harus sudah berjalan dengan baik," tandas Ni Made.
Sementara itu, salah seorang wisatawan asal Belitung Timur Taufan menyambut baik rencana Malioboro full pedestrian. Sebab itu akan menjadi kawasan yang nyaman ketika tidak ada kendaraan bermotor yang melintas. Apalagi saat waktu liburan, pasti akan krodit jika banyak kendaraan yang berseliweran.
"Macet, banyak orang dan tidak bisa gerak. Lebih setuju kalau kendaraan bermotor tidak melintasi Jalan Malioboro, apalagi saat liburan," ucapnya saat bertemu dengan Radar Jogja di area Malioboro, Sabtu (5/7).
Taufan yang mengaku sudah lima kali berkunjung ke Malioboro menyatakan, pada setiap datang ke sana selalu mendapati kemacetan. Hal itulah yang membuatnya setuju dengan wacana larangan kendaraan bermotor melintas di Malioboro.
"Kalau secara utuh dari frame pariwisata kan jadinya kurang menarik. Itu kalau menurut saya dan saya pribadi sangat sepakat kendaraan bermotor dilarang melintas di Malioboro," bebernya.
Selain itu ia berharap wacana itu bisa segera terealisasi agar Malioboro bisa lebih bersih dan enak dipandang. "Ini sudah bersih tapi bisa ditingkatkan lagi. Mungkin penataannya bisa diperbaiki lagi. Sehingga yang datang lebih ramai lagi. Malioboro punya kearifan lokal seperti becak dan andong, memang sudah seperti khasnya Jogja. Kalau itu saya sepakat tidak hilang," tuturnya.
Sementara salah seorang penjual balon di area Malioboro, Yanto juga sepakat pelarangan kendaraan bermotor melintas di kawasan Malioboro segera terealisasi. Sebab, menurutnya, kalau itu terealisasi maka suasana Malioboro bisa lebih nyaman dan wisatawan akan cenderung menghabiskan lebih banyak waktu di Malioboro, yang secara langsung meningkatkan omzet penjualan.
Tak hanya itu saja, jika wacana itu bisa tercapai, Yanto sudah membayangkan Malioboro akan menjadi destinasi yang lebih menarik untuk para pengunjung. "Yang penting ada kantong parkir yang memadai dan akses transportasi umum yang mudah ke Malioboro," lontarnya. (oso/ayu/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita