Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Marak Isu Beras Oplosan, Disdag Kota Jogja Sebut Merek Tertentu Mulai Hilang dari Peredaran

Iwan Nurwanto • Rabu, 16 Juli 2025 | 14:55 WIB

 

Pedagang menunjukkan beras yang dijualnya di salah satu los Pasar Beringharjo, Kota Jogja Selasa (15/7). Maraknya isu beras oplosan membuat beberapa merek beras tertentu mulai hilang dari peredaran
Pedagang menunjukkan beras yang dijualnya di salah satu los Pasar Beringharjo, Kota Jogja Selasa (15/7). Maraknya isu beras oplosan membuat beberapa merek beras tertentu mulai hilang dari peredaran

JOGJA - Maraknya isu beras oplosan yang beredar di wilayah Yogyakarta membuat peredaran beras merek tertentu hilang di pasaran. Guna memastikan hal tersebut, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Jogja berencana untuk melakukan pemantauan.

Kepala Bidang Ketersediaan, Pengawasan, dan Pengendalian Perdagangan Disdag Kota Jogja Sri Riswanti mengatakan, dari hasil pantauannya pada Senin (14/7/2025) di beberapa toko retail. Sejumlah merek beras premium memang mulai menghilang pasca Kementerian Perdagangan (Kemendag) merilis merek-merek yang diduga beras oplosan.

 Baca Juga: Kuasa Hukum UGM Nilai PN Sleman Tak Memiliki Kewenangan untuk Mengadili Sengketa Ijazah Jokowi

Riswanti mengaku, belum tahu secara pasti penyebab hilangnya beberapa merek beras premium dari peredaran di toko retail. Guna memastikan hal tersebut, pihaknya telah menjadwalkan pemantauan pada Kamis (17/7/2025) di Pasar Prawirotaman dan beberapa toko swalayan bersama dengan stakeholder terkait di tingkat provinsi.

Sebagaimana diketahui, Kemendag telah merilis sepuluh merek beras diduga oplosan. Di antaranya Sania, Sovia, Fortun, Siip, Setra Ramos, Beras Pulen Wangi,  Food Station-Setra Pulen,  Raja Platinum, Raja Ultima, dan Ayana.

 Baca Juga: Terkuak! Resto dan Hotel Bukit Indah di Srimulyo Gunakan TKD Tanpa Izin Gubernur, Dispertaru Bantul Telah Kirim Surat Rekomendasi ke Lurah Srimulyo

“Saya sempat menengok di beberapa retail, untuk merek-merek itu sudah tidak ada,” ujar Riswanti saat dikonfirmasi lewat sambungan telepon Selasa (15/7/2025).

Dia menyebut, maraknya isu beras oplosan belum terlalu berdampak pada ketersediaan beras di pasar-pasar tradisional. Hanya memang, sempat ada kenaikan harga beras jenis medium pada pekan lalu. Yakni dari harga Rp 12.500 menjadi Rp 13.500.

 Baca Juga: Terkuak! Resto dan Hotel Bukit Indah di Srimulyo Gunakan TKD Tanpa Izin Gubernur, Dispertaru Bantul Telah Kirim Surat Rekomendasi ke Lurah Srimulyo

Namun menurutnya, hal tersebut bukan disebabkan oleh beredarnya beras oplosan. Namun lebih kepada menipisnya stok beras jenis Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Hal tersebut pun sudah ditindaklanjuti dengan langkah stabilisasi oleh Bulog pada tanggal 12-13 Juli 2025 lalu.

Riswanti menyebut, merek yang dirilis oleh pemerintah pusat diketahui merupakan jenis beras premium yang menggunakan kemasan khusus. Serta memiliki segmentasi sendiri dan biasanya hanya dijual di swalayan.

 Baca Juga: Dampak Isu Beras Premium Oplosan, Distributor di Kulon Progo Ramai Tarik Produk Dari Toko

Kendati begitu, beredarnya beras oplosan memang dapat merugikan konsumen. Sebab beras premium kemasan khusus banyak dipilih karena memiliki kualitas lebih baik dibandingkan beras biasa. Misalnya dari tingkat kepulenan atau kebersihan beras. Sehingga harganya pun lebih mahal.

 

“Ketika kemudian sekarang ada indikasi temuan hal-hal yang merugikan, kami akan ikuti dinamikanya seperti apa,” jelas Riswanti. (inu)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Kota Jogja #Yogyakarta #beras premium #toko retail #Disdag Kota Jogja #kementerian perdagangan (kemendag) #toko swalayan #Disdag #Dinas Perdagangan #beras oplosan #merek #pasar tradisional