JOGJA - Maraknya isu beras oplosan yang beredar di wilayah Yogyakarta membuat peredaran beras merek tertentu hilang di pasaran. Guna memastikan hal tersebut, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Jogja berencana untuk melakukan pemantauan.
Kepala Bidang Ketersediaan, Pengawasan, dan Pengendalian Perdagangan Disdag Kota Jogja Sri Riswanti mengatakan, dari hasil pantauannya pada Senin (14/7/2025) di beberapa toko retail. Sejumlah merek beras premium memang mulai menghilang pasca Kementerian Perdagangan (Kemendag) merilis merek-merek yang diduga beras oplosan.
Baca Juga: Kuasa Hukum UGM Nilai PN Sleman Tak Memiliki Kewenangan untuk Mengadili Sengketa Ijazah Jokowi
Riswanti mengaku, belum tahu secara pasti penyebab hilangnya beberapa merek beras premium dari peredaran di toko retail. Guna memastikan hal tersebut, pihaknya telah menjadwalkan pemantauan pada Kamis (17/7/2025) di Pasar Prawirotaman dan beberapa toko swalayan bersama dengan stakeholder terkait di tingkat provinsi.
Sebagaimana diketahui, Kemendag telah merilis sepuluh merek beras diduga oplosan. Di antaranya Sania, Sovia, Fortun, Siip, Setra Ramos, Beras Pulen Wangi, Food Station-Setra Pulen, Raja Platinum, Raja Ultima, dan Ayana.
“Saya sempat menengok di beberapa retail, untuk merek-merek itu sudah tidak ada,” ujar Riswanti saat dikonfirmasi lewat sambungan telepon Selasa (15/7/2025).
Dia menyebut, maraknya isu beras oplosan belum terlalu berdampak pada ketersediaan beras di pasar-pasar tradisional. Hanya memang, sempat ada kenaikan harga beras jenis medium pada pekan lalu. Yakni dari harga Rp 12.500 menjadi Rp 13.500.
Namun menurutnya, hal tersebut bukan disebabkan oleh beredarnya beras oplosan. Namun lebih kepada menipisnya stok beras jenis Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Hal tersebut pun sudah ditindaklanjuti dengan langkah stabilisasi oleh Bulog pada tanggal 12-13 Juli 2025 lalu.
Riswanti menyebut, merek yang dirilis oleh pemerintah pusat diketahui merupakan jenis beras premium yang menggunakan kemasan khusus. Serta memiliki segmentasi sendiri dan biasanya hanya dijual di swalayan.
Baca Juga: Dampak Isu Beras Premium Oplosan, Distributor di Kulon Progo Ramai Tarik Produk Dari Toko
Kendati begitu, beredarnya beras oplosan memang dapat merugikan konsumen. Sebab beras premium kemasan khusus banyak dipilih karena memiliki kualitas lebih baik dibandingkan beras biasa. Misalnya dari tingkat kepulenan atau kebersihan beras. Sehingga harganya pun lebih mahal.
“Ketika kemudian sekarang ada indikasi temuan hal-hal yang merugikan, kami akan ikuti dinamikanya seperti apa,” jelas Riswanti. (inu)
Editor : Sevtia Eka Novarita