Judul Online:
======
RADAR JOGJA - Berkah momen libur panjang akhir pekan dan liburan sekolah, sepertinya tidak didapatkan penjual oleh-oleh dan pedagang cenderamata di Teras Malioboro Ketandan sisi timur. Dagangan mereka sangat sedikit yang dibeli oleh para wisatawan.
Salah seorang pedagang baju dan sandal khas Jogja, Puji Astuti mengatakan, di hari pertama libur panjang pada Jumat (27/6) ia hanya mendapatkan omzet Rp 100 ribu. Angka itu tergolong cukup kecil di momen liburan seperti sekarang ini.
Puji menilai, letak lapak yang berada di belakang dan tertutup tembok pembatas membuat wisatawan jarang melirik dagangan para pedagang sisi timur. Bahkan parahnya, mayoritas wisatawan hanya sekedar bertanya letak ATM dan kamar mandi saja. Namun tidak membeli.
Oleh karena itu, dia berharap pengelola Teras Malioboro Ketandan bisa memberikan solusi bagi para pedagang di sisi timur. Misalnya dengan menghilangkan tembok pembatas atau memperkuat promosi lapak-lapak milik pedagang.
"Karena memang sekarang jualannya sepi banget. Bahkan pernah sehari itu tidak laku sama sekali," ujar Puji saat ditemui Radar Jogja.
Hal serupa juga dirasakan Yanti. Pedagang cenderamata kalung dan gantungan kunci itu juga mengeluhkan sepinya pembeli di Teras Malioboro Ketandan. Menurutnya, wisatawan hanya ramai pada lapak di halaman depan, sementara di sisi belakang tidak ada wisatawan yang melirik.
Yanti berharap ada kebijakan khusus dari pemangku kebijakan supaya lapak di sisi timur Teras Malioboro Ketandan bisa dikunjungi wisatawan. Sebab wisatawan yang melihat-lihat pada momen libur panjang dapat dikatakan sangat sedikit. Serta sering tidak ada pembeli jika pada hari-hari biasa.
Dia mengatakan, sejak direlokasi pada bulan Januari lalu, lapak di Teras Malioboro Ketandan sisi belakang memang merupakan kawasan yang minim potensi. Selain karena tidak dapat terlihat oleh wisatawan, pembeli biasanya juga sudah berbelanja pada lapak di sisi barat.
Bahkan parahnya, Yanti dan beberapa pedagang lain di sisi timur Teras Malioboro Ketandan pernah menghadapi dua minggu tidak ada pembeli sama sekali. Sementara omzet paling tinggi sejak berjualan hanya sekitar Rp 300 ribu per hari. "Kalau yang di lapak belakang ini wisatawan cuma lewat. Tidak ada yang beli," ungkap Yanti. (inu/laz)