JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta mengidentifikasi adanya pola siklonik di Samudera Hindia. Tetaptnya berada di sebelah barat Pulau Sumatera. Kondisi tersebut dapat memperkuat pola angin timuran di sebagian besar wilayah Jawa termasuk DIY.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta Warjono mengatakan, fenomena tersebut juga berpeluang meningkatkan kecepatan angin dan ketinggian gelombang laut di perairan DIY. Bahkan dalam beberapa hari terakhir, pihaknya melihat aktivitas gelombang laut masuk kategori tinggi.
Baca Juga: Kejaksaan Negeri Sleman Limpahkan Dua Tersangka Suap TKD Trihanggo ke Pengadilan Negeri Yogyakarta
“Untuk ketinggian gelombang laut berkisar antara 2,5 meter hingga empat meter,” ujar Warjono saat dikonfirmasi kemarin (24/6).
Dengan ancaman gelombang tinggi tersebut, dia meminta agar petugas dan pengelola wisata melakukan upaya mitigasi. Misalnya dengan menyiagakan petugas informasi, pemandu wisata, petugas keamanan, dan balawista atau penjaga pantai.
Selain gelombang tinggi, Warjono menyebut, curah hujan di DIY tergolong masih sering terjadi. Sebab suhu muka laut, baik dalam skala harian maupun mingguan terpantau relatif hangat. Berkisar antara 28-29 derajat celsius.
Kemudian profil kelembapan udara di DIY berada pada ketinggian 1,5-5 kilometer. Dengan tingkat kelembapan antara 30-90 persen. Sehingga berpotensi memberikan peluang hujan di beberapa wilayah DIY.
“Ada potensi hujan ringan di Sleman bagian utara, Kulon Progo bagian utara, dan Gunungkidul bagian utara,” beber Warjono.
Baca Juga: HP Pegawai Dindik Gunungkidul Ikut Disita Polda DIY, Bupati Endah Irit Bicara Pascapenggeledahan
Sebelumnya, gelombang tinggi menyebabkan laka laut di Pantai Watu Kodok, Gunungkidul pada Senin (23/6). Ada dua korban yang ikut terseret arus. Yakni atas nama Muh Nabil Aswa, 17, yang selamat, dan Yuda Dwi Prasetya, 17, ditemukan meninggal dunia. “Korban ditemukan meninggal dunia di pinggir pantai 100 meter sebelah barat dari lokasi kejadian,” ungkap Humas Basarnas DIY Pipit Eriyanto dalam keterangannya. (inu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita