JOGJA - Estetika kota menjadi salah satu unsur penting dalam menguatkan predikat Jogja sebagai kota jasa dan pariwisata. Oleh karena itu, Anggota Komisi A DPRD Kota Jogja Marwoto Hadi menaruh atensi lebih terhadap penataan kabel fiber optic yang sampai saat ini masih semrawut.
Marwoto mengatakan, Kota Jogja memerlukan lingkungan yang bersih, nyaman, dan berkarakter. Sehingga estetika kota penting dalam menciptakan citra positif bagi wisatawan. Sehingga dapat mendukung sektor ekonomi kreatif yang saat ini tengah berkembang.
Kendati begitu, perkembangan infrastruktur digital khususnya pemasangan jaringan fiber optic seringkali dilakukan tanpa standar yang terkoordinasi. Sehingga berdampak pada semrawutnya pemasangan kabel udara yang dapat merusak wajah kota. Terlebih di kawasan cagar budaya (heritage) dan koridor pariwisata utama. Seperti area Malioboro, Kraton, Kotabaru, dan Kotagede.
Namun di sisi lain, infrastruktur internet yang baik juga merupakan salah satu syarat penting dalam mendukung digitalisasi. Baik itu di sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan pelayanan publik berbasis elektronik.
Sehingga, sudah selayaknya Pemkot Jogja membuat kebijakan untuk mendukung pengembangan smart city dan digitalisasi pariwisata. Langkah ini pun diharapkan mampu mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) melalui sektor jasa dan pariwisata.
“Mewujudkan estetika kota dan digitalisasi harus diikuti dengan ruang lingkup kegiatan prioritas, berupa penataan jaringan fiber optic dan penguatan konektivitas digital untuk pariwisata,” pesan Marwoto Minggu (22/6).
Politisi Partai Gerindra ini menyampaikan, upaya penataan kabel semrawut bisa diwujudkan dengan pembangunan ducting bawah tanah. Sehingga tidak ada lagi kabel listrik dan fiber optic yang menggantung di atas jalan. Larangan pemasangan kabel udara juga perlu dilakukan. Selain itu, juga diperlukan rekonsolidasi dan pendataan kabel lama dengan melibatkan provider telekomunikasi.
Baca Juga: Jalan Srikayangan-Sentolo Ditambal dengan Urug, Ini Respons Warga
Marwoto juga mendorong adanya Wi-Fi publik gratis di titik strategis wisata. Serta pengembangan aplikasi wisata digital yang terintegrasi dengan promosi dan layanan sektor ekonomi kreatif lokal.
Agar hal tersebut bisa terwujud, diakuinya memang bukan hal yang mudah. Dikarenakan ada berbagai tantangan seperti penyusunan Peraturan Walikota (Perwali) atau Peraturan Daerah (Perda) tentang Penataan Jaringan Utilitas Terpadu dan Estetika Kota. Kemudian juga harus adanya integrasi dalam rencana tata ruang wilayah (RTRW) dan rencana detail tata ruang (RDTR) Kota Jogja.
Selain itu, juga diperlukan tim koordinasi penataan fiber optic lintas organisasi perangkat daerah. Lalu kemitraan dengan penyedia jasa internet dan telekomunikasi dalam skema tanggung jawab sosial (CSR), serta investasi jaringan. Sekaligus penyuluhan kepada masyarakat dan pelaku usaha pariwisata mengenai pentingnya estetika kota dan digitalisasi.
Dengan langkah-langkah itu, Jogja ke depan bisa menjadi kota wisata yang nyaman, estetik, dan terkoneksi digital. Sehingga dapat meningkatkan kunjungan dan lama tinggal wisatawan yang muaranya dapat menambah PAD. Baik dari sektor retribusi wisata, pajak hotel atau restoran, dan jasa digital.
Baca Juga: Gandeng Kapolresta Sleman, Harda Kiswaya Akan Kembali Terbang ke Konawe Selatan Awal Juli Mendatang
“Serta yang paling penting, terwujudnya ruang publik yang bersih dari kabel udara, aman, dan rapi,” tegas Marwoto. (*/inu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita