JOGJA - Meski dikenal sebagai kota budaya dengan ekosistem seni yang kuat, Jogjakarta secara umum dinilai masih minim memiliki patung yang representatif sebagai penanda ruang atau identitas kota. Padahal, secara teoritis, patung bisa berfungsi sebagai landmark yang punya peran penting dalam membentuk karakter sebuah tempat.
Kepala Pusat Studi Perencanaan Pembangunan Regional sekaligus Dosen Departemen Teknik Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik UGM Prof Ir Bambang Hari Wibisono menilai, jika mengaitkan dengan sumbu filosofi, minimnya patung representatif di Jogjakarta tidak berkaitan langsung dengan filosofi itu.
"Rasanya tidak ada larangan eksplisit yang menyatakan bahwa kehadiran patung akan mengganggu filosofi ruang kota," katanya kepada Radar Jogja, Minggu (25/5).
Apalagi jika sifatnya tidak permanen, seperti instalasi seni di Malioboro, justru hal itu menarik dan tidak mengganggu. Bahkan patung yang kontekstual rasanya tidak masalah.
Secara garis besar ia menekankan pentingnya kontekstualitas dalam penempatan patung. Sebuah patung tidak hanya berfungsi sebagai penanda, tetapi juga harus merefleksikan karakter lokasi tempat ia berdiri. "Patung bisa jadi identitas, tapi tidak harus dipaksakan. Jangan sampai latah membuat patung tanpa alasan yang kuat," tambahnya.
Bambang juga menyebut identitas kota tidak harus selalu diwujudkan dalam bentuk patung. Nama jalan, vegetasi khas seperti pohon, hingga simpul-simpul ruang seperti perempatan, bisa menjadi pembentuk identitas yang kuat. "Kalau ingin menambah elemen ruang, sebaiknya bersifat tidak permanen dan dinamis seperti instalasi di Jalan Suroto," pesannya.
Selain itu, ia menilai saat ini Jogja sudah memiliki sejumlah landmark yang kuat secara simbolik dan ikonik, seperti Tugu Jogja, kawasan Malioboro, hingga lampu-lampu khas yang bahkan ditiru kota lain. Plang Jalan Malioboro pun kini telah menjadi simbol yang dikenali masyarakat luas. "Untuk landmark yang permanen, lebih baik memperkuat sense of place yang sudah ada," ucapnya.
Menurutnya, yang lebih dibutuhkan saat ini adalah peningkatan ruang terbuka hijau (RTH) yang idealnya harus memiliki tiga fungsi utama yakni ekologi, estetika, dan sosial. "Harus diakui tidak banyak RTH yang benar-benar bisa dimanfaatkan masyarakat untuk berinteraksi sosial di tengah kota," bebernya.
Lebih lanjut Bambang juga menyoroti arsitektur kontemporer yang mulai bermunculan di berbagai titik di Jogja sebagai bentuk baru dalam pembentukan identitas ruang. Bahkan ia melihat penamaan jalan di Jogja sendiri banyak yang memiliki kaitan historis dan kultural kuat, seperti Sayidan dan Prawirotaman, yang menunjukkan identitas komunitas setempat.
"Jogja itu punya banyak atribut, kota budaya, kota pendidikan, kota wisata. Tantangannya justru mengelaborasi atribut-atribut itu ke bentuk yang tepat dan kontekstual," tandasnya. (iza/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita