Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

SMPN 4 Banguntrapan Bantul Tetap Memilih Memanfaatkan Buku Atlas untuk Pembelajaran Geografi di Era Digital

Cintia Yuliani • Minggu, 18 Mei 2025 | 02:59 WIB

 

LEBIH EFEKTIF: Yusuf Slamet Budiarjo, guru mata pelajaran geografi SMPN 4 Banguntapan, Bantul.
LEBIH EFEKTIF: Yusuf Slamet Budiarjo, guru mata pelajaran geografi SMPN 4 Banguntapan, Bantul.

 

RADAR JOGJA - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kemudahan akses informasi lewat gawai, SMPN 4 Banguntapan, Bantul tetap konsisten memanfaatkan buku cetak sebagai sumber belajar utama pembelajaran geografi. Seperti pada pembelajaran yang membahas tentang peta-peta, sekolah ini memanfaatkan Buku Atlas untuk menunjang pembelajaran agar lebih efektif.


Hal ini dilakukan demi menjaga kualitas literasi dan pemahaman mendalam para siswa terhadap peta dan kondisi geografis dunia secara nyata. Yusuf Slamet Budiarjo, 51, guru geografi di sekolah ini mengatakan, penggunaan gawai untuk mencari informasi memang lebih mudah, namun tidak selalu efektif bagi siswa.

Baca Juga: SKKH Saja Tak Cukup, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bantul Akan Periksa Fisik Hewan Kurban
"Tentunya lebih gampang belajar lewat buku karena konkret. Jika lewat HP kan ukuran yang kecil, kemudian bisa terganggu dan terpicu membuka aplikasi yang lain, otomatis konsentrasinya terpecah. Berbeda jika langsung membuka Buku Atlas, siswa akan lebih berkonsentrasi," jelasnya Selasa (14/5).


Ia menyebut sekarang literasi baca buku telah menurun karena pengaruh masifnya informasi dari internet. Oleh karena itu, sekolahnya melarang siswa membawa gawai ke sekolah agar di sekolah dapat meningkatkan literasi baca buku dengan buku cetak yang lebih efektif.

Baca Juga: Dorong Pembatasan Akses Digital untuk Lindungi Moral Anak, DPRD Bantul Sambut Positif PP 17 Tahun 2025
"Kebetulan sekolah ini ada pelarangan memakai HP, karena ternyata siswa tidak bisa memanfaatkan HP ke arah yang positif. Justru banyak yang menyalahgunakan HP," tuturnya.


Selaku guru geografi, dalam pembelajarannya kerap mengenalkan peta secara konkret menggunakan Buku Atlas yang telah disediakan sekolah dengan berbagai jenis dan penerbit. Ini agar referensi yang diperoleh siswa semakin banyak.


SMPN 4 Banguntapan juga sering mengadakan ujian praktik seperti pembuatan peta buta yang mencakup wilayah Indonesia hingga dunia. Hal ini bertujuan untuk memperkuat daya ingat dan pemahaman siswa yang akan sangat berguna saat mereka terjun ke masyarakat.

Baca Juga: Perajin Desa Wisata Kasongan Bantul Keluhkan Peminat Kerajinan Gerabah Menurun, Banyak yang Beralih ke Profesi Lain
Selain pada ujian praktik mata pelajaran geografi, Yusuf juga meminta siswa untuk membuat peta buta, terdapat beberapa jenis peta lainnya untuk diujikan. "Selain itu siswa juga diminta membuat jenis peta lainnya seperti letak geologis, letak geografis, dan letak astronomis," jelasnya.


Menurutnya, dengan menggunakan Buku Atlas untuk pembelajaran, secara positif siswa dapat belajar dan memahami sendiri isi dari peta yang dipelajari. Selain itu, dengan memahami peta-peta di Buku Atlas dapat menumbuhkan minat siswa dalam membaca buku.


"Peran Buku Atlas sangat besar dan berpengaruh ke pengetahuan dasar. Jadi jika hanya mengandalkan teknologi, tentunya kurang efektif," tambahnya.


Dengan kombinasi antara metode konvensional dan digital, SMPN 4 Banguntapan menunjukkan bahwa Buku Atlas masih relevan dan penting sebagai media pembelajaran yang konkret dan mendalam di era digital ini. (cr2/laz)

Editor : Herpri Kartun
#Bantul #Geografi #astronomis