Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Anggota Komisi D DPRD Kota Jogja Tri Waluko Widodo Dukung Kawasan Malioboro Tertata Rapi dan Ramah Bagi Pedestrian

Iwan Nurwanto • Kamis, 15 Mei 2025 | 14:10 WIB
JADI KEBUTUHAN: Sepasang suami istri saat menghabiskan waktu liburan di kawasan Malioboro. Bagi sebagian orang, liburan masih menjadi prioritan dan tidak bisa ditinggalkan
JADI KEBUTUHAN: Sepasang suami istri saat menghabiskan waktu liburan di kawasan Malioboro. Bagi sebagian orang, liburan masih menjadi prioritan dan tidak bisa ditinggalkan

JOGJA - Penataan kawasan Malioboro sebagai salah satu destinasi wisata favorit di Kota Jogja menjadi perhatian bagi Tri Waluko Widodo. Anggota Komisi D DPRD Kota Jogja yang merangkap sebagai pimpinan panitia khusus (pansus) Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) ini mendorong agar kawasan tersebut tertata dan ramah bagi pedestrian atau pejalan kaki.

Widodo sapaannya mengatakan, penataan lalu lintas dan pengelolaan parkir di Malioboro merupakan salah satu fokus pembahasan bagi legislatif. Apalagi, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Jogja juga telah menetapkan kebijakan strategis untuk mendukung zona bebas kendaraan pada kawasan wisata ikonik  Kota Jogja tersebut.

Politikus PAN ini menilai, Malioboro harus diciptakan sebagai kawasan wisata yang nyaman bagi pejalan kaki. Sehingga kerjasama berbagai pihak sangat diperlukan agar tujuan tersebut bisa tercapai. Pun pemkot juga telah melakukan uji coba zona bebas kendaraan bermotor sejak tahun 2020 lalu dengan pemilihan waktu malam hari setiap akhir pekan.

“Untuk menciptakan zona bebas kendaraan dan suasana nyaman bagi pejalan kaki, kami juga mendorong mendorong penggunaan transportasi umum seperti bus TransJogja, becak, dan andong,” ujar Widodo, Rabu (14/5).

Dia menegaskan, kerjasama dengan komunitas lokal di Kota Jogja juga perlu dilakukan agar untuk mencapai tujuan penataan Malioboro. Misalnya untuk memberikan edukasi tentang pembuangan sampah pada tempatnya dan pengelolaan melalui bank sampah. Kemudian juga edukasi tentang lingkungan dan patroli kebersihan secara mandiri.

Widodo berharap, melalui kerjasama lintas sektoral itu bisa menjadikan Malioboro sebagai percontohan kawasan wisata yang ramah pejalan kaki dan tertata rapi di Kota Jogja. Seiring dengan hal tersebut tentu juga diperlukan pengawasan serta inovasi yang berkelanjutan. “Kolaborasi dengan pengelola parkir, pelaku usaha, dan warga menjadi kunci menciptakan Malioboro yang lebih aman, nyaman, dan tertib,” terangnya.

Melalui penataan di Malioboro, Widodo pun yakin kebijakan tersebut juga dapat meningkatkan kenyamanan bagi pengunjung. Kemudian juga mempercantik estetika kota dan meningkatkan citra destinasi wisata berkelas. Sebab memang tidak dipungkiri, sampai saat ini Malioboro merupakan ikon bagi Jogjakarta.

Melalui penataan, lanjut dia, juga akan mengoptimalkan fungsi ruang. Apalagi arus lalu lintas dan parkir seringkali menjadi masalah di Malioboro. Di sisi lain, kebijakan tersebut juga akan mendukung aktivitas ekonomi yang berkelanjutan serta melestarikan warisan budaya.

Penataan Malioboro yang rapi, lanjut dia, bukan hanya soal keindahan visual. Tapi juga tentang kenyamanan, fungsionalitas, keberlanjutan ekonomi, dan pelestarian budaya. “Dengan penataan yang baik, Malioboro dapat terus menjadi jantung Kota Jogja yang dicintai dan dikunjungi banyak orang,” tegas Widodo. (*/inu/pra)

Editor : Heru Pratomo
#dprd kota jogja #pejalan kaki #pedestrian #Tri #Malioboro