Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Menilik Kehidupan Keagamaan di Lapas Wirogunan Jogja, Lantai Masjid Krowak, Dorong Atensi HZ  hingga Mualaf Quran Center Membantu

Kusno S Utomo • Selasa, 13 Mei 2025 | 13:38 WIB
Lantai Masjid di Lapas Wirogunan Krowak, Dorong Atensi HZ  hingga Mualaf Quran Center Membantu
Lantai Masjid di Lapas Wirogunan Krowak, Dorong Atensi HZ hingga Mualaf Quran Center Membantu

 

JOGJA - Jarum jam menunjukan pukul 11.30. Suasana di halaman depan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Jogja Wirogunan terlihat sepi. Maklum hari itu Jumat (9/5) bukan jadwal kunjungan bagi warga binaan.

Di tengah suasana lengang itu, meluncur mobil Fortuner hitam pelat nomor TNI AD. Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk. Tak lama kemudian keluar sosok pria berpakaian dinas lapangan. Mengenakan peci hitam.

Dia adalah Dandim 0734/Jogja Kolonel (Inf) Arif Setiyono. Dua menit setelah kehadiran Arif, meluncur mobil listrik Hyundai IQNIQ 5 warna cerah.

 

Penumpang mobil itu ternyata Herry Zudianto. Pria yang akrab disapa HZ itu merupakan wali kota Jogja periode 2001-2011. “Wah saya kalah cepat dengan Pak Dandim ini,” ucap HZ sembari tertawa lepas. Dia langsung menyalami Arif.

Pintu masuk Lapas Wirogunan terbuka. Dari dalam keluar Kepala Lapas Wirogunan Marjiyanto. Pria tinggi tegap itu segera mempersilakan HZ dan Arif masuk ke dalam lapas. Lokasi yang harus dilalui seperti  lorong. “Kepala menunduk, awas gejegluk (terantuk, Red),” pesan Marjiyanto.

HZ yang sudah beberapa kali mengunjungi lapas sempat berkomentar soal warna cat. Sebelumnya, bangunan lapas didominasi warna merah. “Sekarang sudah lebih cerah, abu-abu,” tutur wali kota dua periode itu masih dengan tawa lepas.

Marjiyanto mengakui saat ini warna tembok lapas sudah ada aturannya. Warnanya tak lagi merah. “Ini bekas warna merahnya masih tersisa,” ujar mantan kepala Lapas Wonosari sambil menunjukan tembok di dekat pintu keluar.

HZ, Arif, dan Marjiyanto berjalan beriringan menuju Masjid Al Fajar. Lokasinya ada di dalam kompleks lapas. Sejumlah bangunan dengan tembok menjulang ada di kanan kiri. Ada juga regol yang terbuat dari besi.

 Arif berada di depan. Sedangkan HZ dan Marjianto berjalan di belakangnya sambil ngobrol ringan. Keduanya membahas proses renovasi lantai masjid. Marjianto menceritakan pengerjaan fisik bangunan berjalan relatif cepat.

Baca Juga: Terbangkan 2.569 Lampion Ramah Lingkungan Bawa Doa dan Harapan di Puncak Perayaan Tri Suci Waisak

Jumat pekan lalu mulai digarap dan Jumat berikutnya sudah rampung. “Berarti seperti kisah Bandung Bandawasa” ucap HZ yang dijawab Marjiyanto dengan manggut-manggut.

Kisah Bandung Bandawasa adalah raja Kerajaan Pengging. Dia ingin melamar Rara Jongrang dari Keraton Boko sebagai istrinya. Ada syarat dari Rara Jongrang. Dia ingin dibangunkan seribu candi dalam waktu semalam.

Syarat itu berhasil dipenuhi. Namun Rara Jongrang tetap menolak cinta Bandung Bandawasa. Seribu candi itu dikenal dengan Candi Prambanan.

Tidak butuh waktu lama tiba di halaman Masjid Al Fajar. Menunggu azan, rombongan dipersilakan transit di depan masjid. Ada tanah kosong dengan pohon yang rimbun. Di lokasi sudah tersedia kursi dan meja plastik warna hijau.

Di atas meja tersaji beberapa botol air mineral plus bakpia Pathok sebagai camilan.

Dandim Arif tampak menikmati. Dia menghabiskan lebih dari satu. “Bakpia produk lapas ini enak. Apalagi yang rada gosong,” cerita alumnus Akademi Militer Magelang 2002 ini.  Pria asal Kebumen itu berniat membelinya sebagai oleh-oleh. “Nanti mau saya haturkan untuk Pak Danrem. Sekarang beliau masih di Surakarta,” katanya.

Bakpia itu diproduksi warga binaan di bawah koordinasi Edy Susanto, mantan ketua Komunitas Taman Abubakar Ali (Komaba). Edy menjalani pemidanaan karena perkara tipu gelap dan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Bakpia dari Lapas Wirogunan itu telah laku dijual. Beberapa hotel berbintang kerap memesannya.

Di tengah obrolan ringan, azan berkumandang. Salat Jumat segera dilaksanakan. Kurang dari setengah jam, salat selesai. Mantan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua PMI Kota Jogja Munif Tauchid segera naik ke podium. Munif mempersilakan kepala lapas memberikan sambutan.

“Terima kasih atas bantuan Pak Herry,” ucap Marjiyanto di depan ratusan jemaah. Diceritakan, awalnya Masjid Al Fajar merupakan gudang. Kondisinya tanahnya tak rata. “Lantai masjid krowak,” cerita Marjiyanto.

Kemudian datang bantuan dari HZ. Soal awal atensi HZ itu disampaikan Munif. Saat kawan-kawannya membezuk, Munif meminta tolong agar disampaikan kepada siapa pun yang bersedia menyumbangkan sebagian hartanya memakmurkan Masjid Al Fajar.  “Salah satunya dia menyebut nama Pak HZ,”  katanya.

Sebenarnya, ada banyak orang yang berniat membantu. Mereka hanya datang  ke lapas untuk foto-foto. “Tapi setelah foto nggak balik lagi ke sini,” ungkapnya.

Figur HZ dinilai beda. Berkunjung ke lapas saat Ramadan, pemilik Batik Margaria itu  tidak banyak janji. HZ langsung membantu keramik dari granit. Luas Masjid Al Fajar 350 meter persegi.

Setelah lantai, diteruskan memperbaiki plafon. Masjid juga akan dilengkapi fasilitas air conditioner (AC) agar jemaah tidak lagi merasakan panas. Makin nyaman untuk beribadah.

Donasi terkumpul Rp 57 juta. Di tengah acara, Andi Antoni dari Mualaf Quran Center maju ke depan. Dia menyerahkan bantuan Rp 50 juta. Dengan demikian, total ada Rp 107 juta. Rencananya dana tersebut dipakai melanjutkan renovasi masjid.

Di luar masjid, HZ bertemu dengan mantan Dirut PT Taru Martani Nur Achmad Affandi dan bekas Ketua Pokja Pembangunan Stadion Mandala Krida Dedi Risdiyanto.

Sama seperti Munif, keduanya sedang menjalani pemidanaan karena perkara korupsi. Obrolan kembali dilanjutkan di halaman masjid. Kali ini dengan suguhan makan siang, nasi gudeg.  (bersambung/laz)

 

 

Editor : Heru Pratomo
#keagamaan #wonosari #Masjid Al Fajar #Kehidupan #lapas wirogunan #wali kota #Herry Zudianto #bandung bondowoso