JOGJA - Angka perceraian di Kota Jogja tergolong masih cukup tinggi. Upaya antisipatif pun dilakukan oleh pemerintah. Salah satunya melalui program sekolah pra nikah.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan, program sekolah pra nikah merupakan upaya strategis untuk menekan angka perceraian. Sekaligus membangun ketahanan keluarga di tengah masyarakat.
Melalui program yang resmi diluncurkan pada Jumat (2/5/2025) tersebut, pihaknya ingin memberi wadah edukatif bagi para calon pengantin. Materi yang diberikan berupa pembekalan fisik, spiritual, hingga mental sebelum memasuki kehidupan berumah tangga.
Hasto menyebut, pembekalan pra menikah memang menjadi hal yang sangat penting. Lantaran calon pengantin harus memiliki pemahaman terhadap peran dalam keluarga, disamping kesiapan mental dan fisik.
“Ini bagian dari upaya kami (pemkot) menyiapkan generasi yang kuat dari akar keluarga,” ujar Hasto, Minggu (4/5/2025).
Selain sebagai upaya membangun ketahanan keluarga, adanya program sekolah pra nikah juga menjadi langkah dari Pemkot Jogja untuk menekan kasus perceraian. Lantaran diketahui angka perceraian di Kota Jogja tergolong cukup tinggi.
Contohnya dari catatan Pengadilan Agama selama tahun 2024 saja sudah ada 519 permohonan cerai yang dikabulkan. Permohonan cerai paling banyak diajukan oleh istri dengan alasan kebiasaan buruk suami seperti judi dan mabuk hingga KDRT.
Orang nomor satu di Kota Jogja itu menilai, tingginya angka perceraian yang diajukan perempuan memang menjadi tantangan serius dalam pembangunan keluarga. Sehingga program sekolah pra nikah akan melibatkan lintas sektor. Seperti organisasi perangkat daerah, tokoh, agama, komunitas, dan psikolog.
“Program ini diharapkan menjadi langkah preventif yang efektif untuk mengurangi konflik rumah tangga dan perceraian sejak dini,” terang Hasto.
Kalangan komunitas keagamaan Teras Dakwah pun mendukung program tersebut. Koordinator dan Pengawas Amida Teras Dakwah Eka Juli menyampaikan, dengan bantuan pemerintah tentu akan semakin mensukseskan pembangunan keluarga yang tangguh.
Bahkan di satu sisi pihaknya juga sudah memiliki program Sekolah Ketahanan Keluarga berbasis Siroh Nabawiyah. Melalui program itu masyarakat umum diberi bekal pembangunan keluarga tangguh dengan pendekatan spiritual.
“Melalui pendekatan spiritual dan historis ini, kami berharap peserta memiliki pondasi yang kuat dalam membentuk keluarga sakinah, mawaddah, dan warahmah,” katanya. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin