JOGJA - Harga kedelai di wilayah DIY mengalami kenaikan, imbas dari perang dagang antara Amerika Serikat dan China.
Tak hanya itu, faktor lain juga karena kebijakan tarif impor yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
"Iya ada kaitannya (perang dagang) karena biasanya kedelai impor dari USA," ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY Yuna Pancawati saat dikonfirmasi, Senin (28/4/2025).
Yuna menjelaskan, kenaikan terjadi setelah Hari Raya Idul Fitri 2025, harga kedelai impor yang sebelumnya sekitar Rp 9.400 per kilogram kini naik menjadi Rp 10.100.
Kedelai tersebut sebagian besar dipasok dari importir di Semarang. "Untuk stok di DIY masih aman," tuturnya.
Pasokan kedelai di DIY sebagian besar disuplai melalui asosiasi yang ada di Gunungkidul, namun tetap mengandalkan kedelai impor dari Semarang.
Yuna mengakui, kebutuhan kedelai di DIY relatif tinggi, terutama untuk produksi tahu, tempe, dan susu kedelai. Tahu dan tempe menjadi konsumsi harian masyarakat.
"Tentu pasti tinggi kebutuhan kedelai di Yogyakarta," terangnya.
Sebagai langkah antisipasi tersebut, Disperindag DIY mengoptimalkan pengawasan dan pemantauan harga dan stok kedelai.
Terpisah, Ketua Pusat Koperasi Tempe-Tahu Indonesia (Puskopti) DIY Tri Harjono menambahkan, para pelaku usaha tahu-tempe mau tidak mau harus menyesuaikan diri dengan perubahan harga pasar.
Mereka memilih bertahan dengan produksi meski harga bahan baku naik.
"Perajin juga nggak begitu masalah, sepanjang kestabilan barang itu ada, harga naik itu biasanya juga kayak gitu," jelasnya.
Saat ini harga kedelai di pasaran mencapai Rp 10.100. Kenaikannya bertahap mulai Rp 100 hingga Rp 200 dan lonjakan tidak pernah signifikan.
Walaupun para pelaku usaha tetap melakukan produksi, namun mereka cukup terdampak dengan kenaikan tersebut.
"Walaupun sudah pada teriak-teriak, sudah di zona nyaman to, paling tinggi Rp 9.000, tiba-tiba melonjak," tandasnya.
Menurutnya, kenaikan tersebut terjadi pascakebijakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trum terkait tarif impor.
Maka, sebagai strategi untuk bertahan, sebagian perajin memilih mengurangi ukuran tahu atau tempe yang diproduksi. Harga jual tetap, namun ukuran produk sedikit diperkecil.
"Perajin sudah ahlinya, bisa jadi dikurangi ukurannya atau diperkecil gitu. Harga tetap cuma ukurannya diperkecil. Belum ada yang menaikkan harga jual," terangnya.
Salah satu perajin tempe di Sleman yang mengurangi ukuran tempe untuk menyiasari kenaikan harga kedelai adalah Sutiman.
Ia menilai, harga saat ini masih tergolong wajar dibandingkan pengalaman sebelumnya, ketika harga kedelai sempat mencapai Rp 12.000 per kilogram.
“Dulu pernah mengalami yang lebih mahal. Kalau harga tinggi ya ukurannya dikurangi, harga tetap. Kalau untuk menaikkan harga, kasihan konsumennya,” ujarnya.
Baca Juga: Girls Gone Ride” Riding Spesial Hari Kartini Bersama New Honda PCX160 RoadSync
Rumah produksi miliknya tidak mampu memproduksi dalam jumlah banyak.
Dalam sehari ia menghabiskan sekitar 40 hingga 50 kilogram kedelai. Ia memproduksi tempe dengan dua jenis yakni bungkus dan plastik.
“Tempe ada yang dijual Rp 2.000 dapat 5 (bungkus), ada yang Rp 800 (menggunakan bungkus daun), kalau yang plastik Rp 7.000. Dipasarkan di daerah Godean,” terangnya. (oso/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita